IEA Siap Lepas Cadangan Minyak Tambahan jika Eskalasi Konflik di Timur Tengah Meningkat

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 18 Maret 2026 | 04:00 WIB
Ilustrasi cadangan minyak dunia. (Foto/Freepik)
Ilustrasi cadangan minyak dunia. (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com - Badan Energi Internasional (IEA) berkomitmen menjaga stabilitas pasar energi global di tengah ketidakpastian pasokan. 

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan negara-negara anggota siap melepaskan cadangan minyak tambahan jika diperlukan. Hal tersebut terjadi di luar kesepakatan yang sedang berjalan saat ini.

Langkah ini diambil sebagai respons atas gangguan pasokan minyak yang kian mengkhawatirkan akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan resminya pada Senin (16/3/2026), Fatih Birol meyakinkan publik bahwa stok minyak dunia masih dalam kategori aman. 

Meskipun saat ini IEA tengah melakukan pelepasan cadangan secara terkoordinasi, total stok pemerintah dan industri yang tersisa masih akan berada di atas angka 1,4 miliar barel.

"Pelepasan cadangan yang tengah berlangsung saat ini hanya akan mengurangi total cadangan negara anggota sekitar 20 persen setelah prosesnya selesai," jelas Birol yang dikutip dari Xinhua News pada Selasa (18/3/2026).

Sebelumnya, pada 11 Maret, sebanyak 32 negara anggota IEA telah sepakat untuk menggelontorkan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka ke pasar global. 

Hal ini dilakukan untuk menambal kekosongan pasokan yang hilang akibat konflik.

Birol menekankan bahwa situasi saat ini bukanlah gangguan biasa. Ia membandingkan krisis ini dengan guncangan besar yang pernah terjadi di masa lalu.

"Volume pasokan minyak yang terhenti saat ini sudah melampaui kehilangan pasokan selama guncangan minyak tahun 1973. Ini adalah gangguan terbesar yang pernah kita saksikan sejak saat itu," tegas Birol.

IEA menggarisbawahi kunci utama untuk menstabilkan harga dan pasar minyak dunia adalah kelancaran jalur distribusi. 

Birol menyebutkan bahwa memulihkan pengiriman normal melalui Selat Hormuz tetap menjadi prioritas krusial dan faktor paling menentukan bagi ketahanan energi global saat ini.

Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi pengiriman minyak dunia, di mana gangguan kecil di jalur tersebut dapat memicu lonjakan harga yang signifikan di tingkat konsumen global.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: