Sering Merasa Cemas? Puasa Medsos Bersama Keluarga Bisa jadi Solusi
BeritaNasional.com - Berdasarkan studi terbaru yang dilakukan Princeton University Amerika Serikat berkerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), istirahat dari media sosial (medsos) yang dilakukan bersama keluarga ternyata bisa menurunkan kecemasan. Pasalnya, studi ini menunjukkan bahwa medsos bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental.
Professor Nicholas Kuipers dari Princeton University menjelaskan, selama ini sudah banyak perdebatan tentang pengaruh penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental. Namun belum ada studi yang benar-benar meyakinkan secara ilmiah apakah media sosial itu berpengaruh buruk, netral, atau baik terhadap kesehatan mental penggunanya.
"Studi ini untuk melihat hubungan kausal antara media sosial dan kesehatan mental penggunanya, termasuk soal rasa cemas," Kuipers dalam presentasi survei bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental” yang dikutip pada Rabu (18/3/2026).
Sementara itu, Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menunjukkan, ada sekitar 11 persen warga yang mengaku selalu/sering tidak mampu menghentikan atau mengendalikan rasa khawatir, 46 persen kadang-kadang, 41 persen tidak pernah, dan ada 2 persen yang tidak menjawab. Sementara itu, yang selalu/sering merasa gugup, cemas, atau gelisah ada 10 persen, kadang-kadang ada 53 persen, tidak pernah 35 persen, dan 2 persen tidak menjawab.
"Jika kedua item digabung sehingga membentuk skor dengan skala 0-100, di mana 0 berarti sangat tidak cemas dan 100 berarti sangat cemas, rata-rata skor rasa cemas warga adalah 24,5 yang berarti rendah. Mayoritas warga, 93 persen, memiliki rasa cemas yang rendah (skor 0-50), sedangkan yang memiliki rasa cemas tinggi (skor di atas 50) jumlahnya sekitar 7 persen," terangnya.
Dalam satu bulan, kata Deni, skor rasa cemas di kelompok Kontrol cenderung naik dari 24,3 di survei pertama menjadi 25 di survei kedua. Dalam periode yang sama, skor di Kelompok T1 cenderung turun dari 25,1 menjadi 23,7, dan skor di kelompok T2 turun dari 24,2 menjadi 22,3. Selisih skor rasa cemas antara kelompok T1 dan Kontrol berubah dari +0,8 di Survei 1 menjadi -1,3 di Survei 2 (turun 2,1 poin).
"Sementara selisih skor antara T2 dan Kontrol berubah dari -0,1 menjadi -2,7 (turun 2,6 poin)," tambahnya.
Karena itu, Deni menyimpulkan, deaktivasi atau istirahat dari medsos, terutama jika dilakukan bersama semua anggota rumah tangga, terlihat berdampak menurunkan rasa cemas.
Dalam satu bulan periode penelitian, lanjut Deni, skor kesehatan mental dan emosional di kelompok Kontrol cenderung turun dari 71,1 di survei pertama menjadi 70,4 di survei kedua. Dalam periode yang sama, skor di kelompok T1 cenderung stabil dari 71,7 menjadi 71,8, sementara skor di kelompok T2 cenderung naik dari 71,3 menjadi 72,2. Selisih skor antara kelompok T1 dan Kontrol berubah dari +0,6 di Survei pertama menjadi +1,4 (naik 0,8 poin) di Survei kedua. Sementara selisih skor antara T2 dan Kontrol berubah dari +0,2 menjadi +1,8 (naik 1,6 poin).
“Data ini menunjukkan deaktivasi media sosial, terutama jika dilakukan bersama seluruh anggota keluarga, terlihat berdampak meningkatkan Kesehatan mental dan emosional,” ungkap Deni.
Deni menyampaikan, studi ini dilakukan berdasarkan metode eksperimental terhadap populasi pengguna medsos di 30 ibu kota provinsi di Indonesia dengan 1.502 responden yang dipilih secara acak (stratified multistage random sampling) dan diwawancara online dua kali dalam bentuk panel. Wawancara pertama dilakukan ketika responden dalam keadaan biasa beraktivitas dengan medsos mereka.
Kemudian, responden ini dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok yakni, kelompok yang diminta untuk menghentikan penggunaan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (T1), kelompok responden yang diminta bersama-sama dengan semua anggota rumah tangga untuk tidak menggunakan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (T2), dan kelompok responden yang tetap dipersilakan menggunakan medsos seperti biasa sejak wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kontrol).
Jarak waktu wawancara 1 dan 2 selama sebulan, wawancara 1 dilakukan pada 17 November–15 Desember 2025, dan wawancara 2 dilakukan pada 16 Desember–14 Januari 2026. Studi ini sepenuhnya dibiayai oleh Princeton University.
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu







