Haedar Nashir Ajak Umat Jadikan Idul Fitri Momentum Berbagi dan Perkuat Persaudaraan

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 20 Maret 2026 | 05:15 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto/Muhammadiyah)
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto/Muhammadiyah)

BeritaNasional.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menjadikan Idul Fitri 1447 Hijriah sebagai momentum untuk berbagi, menumbuhkan kepedulian, dan memperkuat persaudaraan lintas batas.

Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Refleksi Idul Fitri 1447 H. Menurutnya, setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa, umat Islam merayakan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026, yang semestinya dimaknai sebagai hari besar untuk meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan.

Haedar menegaskan, semangat berbagi dan kepedulian sosial tidak hanya perlu dibangun di tingkat nasional, tetapi juga secara global. Ia mencontohkan pentingnya solidaritas bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan, seperti di Palestina, Iran, dan berbagai belahan dunia lainnya.

“Memberi adalah panggilan dari semangat ke-berislaman kita untuk siapapun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Dan itulah yang harus kita hidupkan setelah bulan Ramadan,” ungkap Haedar.

Selain semangat berbagi, Haedar juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai yang telah ditempa selama Ramadan, salah satunya menahan amarah. Ia menyebut, rasa marah merupakan hal yang manusiawi, namun sikap pemarah yang berlebihan harus dihilangkan.

Menurut Haedar, Idul Fitri juga menjadi waktu yang tepat untuk menumbuhkan sikap saling memaafkan. Jika seseorang pernah tersakiti oleh orang lain, maka ia harus menyiapkan hati yang lapang untuk memberi maaf. Sebaliknya, seorang muslim juga dituntut berjiwa besar untuk meminta maaf ketika berbuat salah.

Ia menilai, nilai-nilai tersebut penting agar ibadah puasa selama Ramadan benar-benar memberi dampak bagi kehidupan pribadi maupun kolektif di tengah masyarakat.

“Di bulan Syawal ketika kaum muslimin memulai satu Syawal sebagai hari pertama beridulfitri dan sekaligus memulai hari baru, maka kebiasaan yang sangat baik adalah berislaturahmi,” katanya.

Haedar menjelaskan, silaturahmi merupakan ruang bersama untuk memperbaiki kualitas hubungan kemanusiaan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun antarbangsa. Menurutnya, rusaknya nilai-nilai kemanusiaan kerap berawal dari hancurnya relasi antarmanusia.

“Dari sinilah pentingnya kita membangun persaudaraan. Persaudaraan yang melintas batas, baik sesama iman maupun dengan seluruh anak bangsa dan siapapun yang ada,” tuturnya.

Namun demikian, Haedar mengingatkan bahwa persaudaraan lintas batas tersebut harus dibangun di atas prinsip kebaikan dan ketakwaan, sebagaimana terkandung dalam Al Maidah ayat 2. Ia menegaskan, kerja sama antarmanusia seharusnya diarahkan untuk kebaikan, bukan untuk keburukansinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: