Jepang Buka Peluang Sapu Ranjau di Selat Hormuz, Ini Syaratnya
BeritaNasional.com - Pemerintah Jepang membuka kemungkinan mengerahkan militernya untuk melakukan penyapuan ranjau di Selat Hormuz, jalur strategis bagi distribusi minyak dunia, jika tercapai gencatan senjata dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyampaikan bahwa langkah tersebut masih bersifat hipotetis dan akan bergantung pada situasi di lapangan. Ia menegaskan bahwa penyapuan ranjau dapat dipertimbangkan apabila ranjau laut menjadi penghambat utama bagi pelayaran internasional setelah konflik mereda.
"Jika terjadi gencatan senjata total, secara hipotetis, maka hal-hal seperti penyapuan ranjau laut bisa muncul," kata Motegi dalam sebuah program Fuji TV dilansir dari Reuters, Minggu (22/3/2026).
"Ini murni hipotetis, tetapi jika gencatan senjata ditetapkan dan ranjau laut menjadi penghalang, maka saya pikir itu adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan," imbuh dia.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut. Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global.
Namun demikian, langkah militer Jepang di luar negeri tetap dibatasi oleh konstitusi pasifis yang diberlakukan setelah Perang Dunia II. Meski begitu, undang-undang keamanan yang disahkan pada 2015 memberikan ruang bagi Jepang untuk mengerahkan Pasukan Bela Diri ke luar negeri dalam kondisi tertentu, termasuk jika ancaman terhadap sekutu dekat berdampak pada kelangsungan hidup negara.
Motegi juga menegaskan bahwa hingga saat ini Tokyo belum memiliki rencana konkret untuk membantu kapal-kapal Jepang yang mungkin terjebak di Selat Hormuz. Ia menekankan pentingnya menciptakan kondisi yang aman agar seluruh kapal dapat melintasi jalur tersebut tanpa hambatan.
Pernyataan ini mencerminkan kehati-hatian Jepang dalam merespons konflik di kawasan Timur Tengah, sekaligus menunjukkan perhatian terhadap keamanan jalur energi global yang sangat vital bagi kepentingan ekonomi negara tersebut.
Sumber: Reuters
EKBIS | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 10 jam yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







