1 Bulan Perang AS-Israel vs Iran: Krisis Kemanusiaan Meningkat, Sinyal Damai Masih Abu-abu
BeritaNasional.com - Tepat satu bulan sudah konflik bersenjata antara aliansi Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran berkecamuk. Hingga Minggu (29/03/2026), belum ada tanda-tanda de-eskalasi yang berarti meskipun jalur diplomasi melalui pihak ketiga mulai diupayakan.
Harapan akan perdamaian masih abu-abu seiring terus meningkatnya mobilisasi militer di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang dipicu oleh serangan mendadak pada akhir Februari lalu ini telah mengubah peta geopolitik dunia dalam waktu singkat. Berikut ini adalah rangkuman perjalanan satu bulan perang yang mengguncang dunia.
Awal Mula Serangan terhadap Pemerintahan Iran
Perang pecah pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan operasi militer gabungan yang menargetkan puncak kepemimpinan Iran. Serangan ini menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beserta jajaran petinggi militer dan pertahanan senior lain.
Iran merespons seketika melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan meluncurkan Operasi True Promise-4 dengan menghujani pangkalan AS dan wilayah Israel dengan ratusan rudal dan drone.
Eskalasi Regional dan Krisis Energi
Konflik dengan cepat meluas ke negara tetangga. Hizbullah dan Houthi yang berbasis di Lebanon mulai menyerang Israel sejak 2 Maret yang dibalas dengan serangan udara masif oleh tentara Isreal IDF.
Sementara itu, kelompok Houthi Yaman secara resmi menyatakan keterlibatannya pada 28 Maret dengan menargetkan pangkalan militer di Israel Selatan.
Kemudian, Iran memblokade Selat Hormuz. Iran mengeklaim kendali penuh atas selat tersebut. Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, memerintahkan penutupan jalur vital minyak dunia tersebut bagi kapal-kapal AS dan sekutunya.
Lalu, serangan Israel ke kilang minyak di Teheran pada 7 Maret menyebabkan fenomena hujan hitam beracun yang berdampak pada kesehatan warga sipil.
Langkah Donald Trump
Presiden AS Donald Trump mengambil tindakan tegas dengan mengebom pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg dan fasilitas nuklir Natanz. Trump bahkan mengancam akan meratakan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Menariknya, Trump secara terbuka menyatakan AS tidak lagi membutuhkan bantuan sekutu NATO dalam operasi ini menyusul keengganan negara-negara Eropa untuk terlibat lebih jauh dalam perang terbuka melawan Iran.
Dampak Kemanusiaan yang Makin Parah
Data dari Organisasi Maritim Internasional menyebutkan dampak destruktif dari perang ini. Setidaknya 1.750 orang tewas dan 22.800 lainnya luka-luka di pihak Iran.
Sementara itu, AS mengeklaim telah menggempur lebih dari 10 ribu target di wilayah Iran. Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi seluruh warga negaranya di 15 negara Timur Tengah karena risiko keamanan yang ekstrem.
Upaya Gencatan Senjata
Harapan muncul saat Pakistan mulai memediasi negosiasi tidak langsung antara Washington dan Teheran. AS dilaporkan telah mengirimkan 15 poin rencana perdamaian.
Meski Trump sempat menunda serangan ke fasilitas energi sebagai bentuk iktikad baik, pihak Iran tetap menuntut jaminan keamanan dan kompensasi kerusakan sebelum benar-benar menghentikan perang.
Saat ini, mata dunia tertuju pada pertemuan di Islamabad yang melibatkan Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Turki.
Pertemuan ini diharapkan mampu menekan kedua belah pihak untuk melakukan gencatan senjata permanen sebelum konflik ini benar-benar menghancurkan stabilitas ekonomi dan keamanan global.
Sumber: Xinhua News
PERISTIWA | 17 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







