Uni Eropa Siapkan Skenario Terburuk Antisipasi Krisis Energi, BBM Terancam Dijatah

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 03 April 2026 | 23:00 WIB
Bendera Uni Eropa (UE) atau European Union (EU). (BeritaNasional/European Union)
Bendera Uni Eropa (UE) atau European Union (EU). (BeritaNasional/European Union)

BeritaNasional.com - Uni Eropa (UE) kini dalam posisi siaga satu menghadapi potensi krisis energi global. Ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah memaksa blok ekonomi tersebut mengevaluasi berbagai langkah darurat, mulai pembatasan distribusi bahan bakar minyak (BBM) hingga pelepasan cadangan minyak tambahan.

Komisaris Energi Uni Eropa Dan Jorgensen mengungkapkan pihaknya tengah menyusun rencana strategis untuk meredam dampak jangka panjang dari konflik tersebut. 

Salah satu opsi pahit yang mulai dipertimbangkan adalah kebijakan penjatahan BBM jika guncangan pasokan terus berlanjut.

Mempersiapkan Skenario Terburuk

Dalam wawancaranya dengan Financial Times, Jumat (3/4/2026), Jorgensen menegaskan Uni Eropa harus siap menghadapi kondisi paling kritis. 

Meski saat ini stok bahan bakar vital seperti solar dan avtur masih mencukupi, langkah preventif tetap menjadi prioritas.

"Kami sedang mempertimbangkan semua kemungkinan. Semakin serius situasinya, semakin besar kebutuhan kami untuk menggunakan instrumen legislatif," tegas Jorgensen.

Sejauh ini, UE belum mengambil langkah ekstrem untuk melonggarkan aturan impor avtur dari Amerika Serikat atau mengubah komposisi etanol dalam BBM. 

Namun, Jorgensen memperingatkan bahwa situasi untuk beberapa produk energi diprediksi akan memburuk dalam beberapa pekan ke depan.

Krisis ini merupakan buntut dari eskalasi militer di Timur Tengah yang meletus sejak akhir Februari lalu. 

Serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu blokade de facto di Selat Hormuz.

Sebagai informasi, Selat Hormuz adalah jalur urat nadi pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk ke pasar dunia. 

Terganggunya jalur ini tidak hanya menghambat distribusi, tetapi juga memukul angka produksi minyak dan memicu lonjakan harga energi di tingkat global.

Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi ini ternyata tidak hanya dialami Eropa. Sejumlah negara lain, seperti Singapura, dikabarkan telah membentuk komite krisis khusus untuk memantau stabilitas energi dalam negeri mereka.

Uni Eropa kini terus memantau perkembangan di Timur Tengah sambil menyiapkan payung hukum dan cadangan minyak darurat guna memastikan roda ekonomi kawasan tetap berputar di tengah ketidakpastian global.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: