Soal Rencana Pembelian Pesawat KF-21 Boramae Korsel, Kemhan: Belum Ada Keputusan Final

Oleh: Bachtiarudin Alam
Sabtu, 04 April 2026 | 09:44 WIB
Pesawat tempur A-10 milik Amerika Serikat. (Foto/wikipedia).
Pesawat tempur A-10 milik Amerika Serikat. (Foto/wikipedia).

BeritaNasional.com - Kementerian Pertahanan (Kemhan) melaporkan perkembangan terkait rencana pembelian pesawat KF-21 Boramae asal Korea Selatan (Korsel) sampai saat ini dalam tahap penjajakan.

Penjelasan ini seiring telah berlangsungnya pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada 1 April 2026.

“Terkait KF-21 Boramae, perlu kami sampaikan bahwa rencana terkait pesawat tempur KF-21 Boramae saat ini masih berada pada tahap penjajakan,” kata Karo Infohan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait yang dikutip pada Sabtu (4/4/2026).

Dengan begitu, lanjut Rico, sampai saat ini, belum ada kesempatan final antara pemerintah Indonesia dengan Korsel terkait proyek pengembangan bersama pesawat tempur generasi baru KF-21 Boramae.

“Belum terdapat keputusan final mengenai jumlah maupun skema pengadaannya,” tuturnya.

Sebab, Rico menjelaskan realisasi kontrak pengadaan akan sangat bergantung pada ketersediaan anggaran negara serta hasil kajian menyeluruh terhadap kebutuhan operasional TNI.

“Saat ini, kebutuhan anggaran masih dalam proses perhitungan dan evaluasi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rico menyampaikan pengadaan alutsista, termasuk pada matra udara, merupakan bagian rencana jangka panjang pembangunan kekuatan TNI.

“Dalam pelaksanaannya, pemerintah memanfaatkan berbagai skema pembiayaan guna mempercepat pemenuhan kebutuhan pertahanan. Dengan tetap memperhatikan kemampuan fiskal negara serta prioritas pembangunan nasional,” tegasnya.

Awal Mula Rencana

Terkait rencana pembelian KF-21 Boramae sempat mencuat saat Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bertemu di acara KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2025, di Hwabaek International Convention Center (HICO), Gyeongju, Sabtu (1/11/2025) silam.

Dalam pertemuan yang akrab itu, Presiden Lee menekankan hubungan Korsel-Indonesia telah berkembang pesat dan mencakup berbagai sektor strategis. 

Ia menegaskan kerja sama antara kedua negara kini telah mencapai tingkat kemitraan yang sangat tinggi.

“Republik Korea dan Indonesia telah membangun kerja sama di berbagai bidang dalam jangka waktu yang panjang. Kita telah membangun kerja sama di berbagai bidang, misalnya, di bidang ekonomi, perdagangan dan investasi, serta di bidang pertahanan dan keamanan, dan kami telah membangun tingkat kerja sama ini ke tingkat yang sangat tinggi,” ujar Lee dikutip melalui keterangan pers dari BPMI Sekretariat Kepresidenan.

Presiden Lee juga menyampaikan apresiasi terhadap kemajuan kolaborasi kedua negara di bidang pertahanan, khususnya dalam proyek pengembangan bersama pesawat tempur generasi baru KF-21. Ia pun mengaitkan hubungan erat kedua negara dengan nilai-nilai historis yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

“Kita semua telah belajar dari sejarah bahwa Indonesia telah memimpin pembentukan Semangat Bandung. Dan jika kita melihat elemen-elemen kunci dari Semangat Bandung, itu adalah keseimbangan, otonomi strategis, kerja sama, dan pragmatisme. Dan nilai-nilai ini merupakan pilar yang sangat kuat bagi kebijakan luar negeri Korea,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas kemitraan erat yang telah terjalin antara kedua negara, baik di sektor ekonomi maupun pertahanan. Kepala Negara menuturkan bahwa selama satu tahun terakhir, komunikasi antara Pemerintah Indonesia dan pelaku industri Republik Korea berjalan intensif.

Di bidang pertahanan, Prabowo menegaskan bahwa kerja sama yang telah berlangsung akan terus diperkuat, termasuk dalam pembahasan lanjutan proyek pesawat tempur bersama KF-21. Ia juga menjelaskan bahwa proses negosiasi proyek tersebut tengah berjalan dan melibatkan pembahasan teknis antara kedua pihak.

“Negosiasi masih berlanjut, dan tentu saja negosiasi selalu bergantung pada faktor ekonomi, harga, dan skema pembiayaan. Jadi, saya rasa para menteri kami akan terus berdiskusi dengan tim Anda, dan tim teknis kami juga akan melanjutkan hal ini,” ucapnya. 

Pada pertemuan, Prabowo juga telah menyampaikan pentingnya penguatan kerja sama kebudayaan dengan Republik Korea. Kolaborasi yang erat di bidang budaya dapat memicu pertumbuhan industri kreatif lokal, mendorong daya saing budaya Indonesia, serta mendongkrak sektor-sektor ekonomi strategis lainnya seperti pariwisata.sinpo

Pesawat KF-21 Boramae Korsel. (Foto/Dok Korea Aerospace Industries)
Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: