3 Poin Penghambat Perundingan AS-Iran di Islamabad

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 11 April 2026 | 06:00 WIB
Gencatan senjata AS-Iran (Beritanasional/Candra)
Gencatan senjata AS-Iran (Beritanasional/Candra)

BeritaNasional.com - Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan duduk bersama di meja perundingan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026) pagi waktu setempat. 

Pertemuan ini dilakukan di tengah gencatan senjata bersyarat selama dua minggu yang baru saja dimulai pada Selasa lalu.

Meski dunia menyambut baik upaya perdamaian ini, jalur menuju kesepakatan abadi masih dibayangi oleh tiga isu krusial yang sangat sensitif. 

Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi hambatan besar bagi kedua negara:

1. Sengketa Tarif dan Keamanan Selat Hormuz

Selat Hormuz menjadi kartu as sekaligus pusat ketegangan. Iran sempat memblokade jalur vital yang dilalui seperlima minyak dunia ini sejak konflik pecah pada 28 Februari. 

Kini, muncul isu baru mengenai biaya transit. Wall Street Journal melaporkan Iran menuntut biaya 1 dolar AS per barel bagi kapal tanker yang melintas.

Presiden AS Donald Trump merespons keras tuntutan tersebut dengan ancaman agar Iran segera menghentikan pemungutan tol. 

Namun, di sisi lain, Trump sempat melontarkan ide "usaha patungan" dengan Iran untuk mengelola lalu lintas di sana. 

Sementara itu, Iran menegaskan bahwa jalur aman di selat tersebut hanya akan diberikan jika Washington mematuhi komitmen gencatan senjata secara penuh.

2. Status Lebanon: Gencatan Senjata atau Perang Berlanjut

Hambatan paling panas saat ini adalah status Lebanon dalam kesepakatan damai. Israel dan AS bersikeras bahwa gencatan senjata dua minggu ini tidak mencakup Lebanon, sehingga Israel terus melancarkan serangan udara mematikan ke wilayah tersebut.

Pihak Iran meradang dan menuduh Israel melanggar kesepakatan. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memberikan pilihan kepada Washington. 

"AS harus memilih gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak bisa memiliki keduanya," tulisnya melalui media sosial. 

Teheran menegaskan bahwa penghentian serangan di Lebanon adalah bagian tak terpisahkan dari perjanjian damai mereka dengan AS.

3. Pengayaan Uranium dan Ambang Batas Nuklir

Isu nuklir tetap menjadi agenda utama yang sulit ditemui titik temunya. Gedung Putih menegaskan bahwa penghentian pengayaan uranium oleh Iran adalah hal yang tidak bisa ditawar.

Namun, klaim tersebut ditolak mentah-mentah oleh Kepala Organisasi Energi Atom Iran Mohammad Eslami. 

Ia menyatakan bahwa tuntutan untuk membatasi pengayaan uranium hanyalah mimpi belaka. 

"Klaim dan tuntutan musuh untuk membatasi program pengayaan uranium Iran hanyalah harapan yang akan terkubur. Tidak ada hukum atau individu yang dapat menghentikan kami," tegas Eslami.

Meski situasi di lapangan sangat tegang, Donald Trump mengaku tetap optimistis bahwa kesepakatan damai sudah di depan mata. Menurutnya, para pemimpin Iran bersikap jauh lebih kooperatif dalam pembicaraan tertutup dibandingkan pernyataan mereka di media.

"Mereka menyetujui semua hal yang harus mereka setujui. Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, itu akan sangat menyakitkan," ucap Trump.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: