Gandeng Pelaku Industri, Pemerintah Godok Insentif Kendaraan Listrik

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 11 April 2026 | 05:00 WIB
Pameran otomotif GIIAS beberapa tahun lalu. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Pameran otomotif GIIAS beberapa tahun lalu. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com - Pemerintah Indonesia semakin serius mempercepat transisi menuju ekosistem kendaraan listrik (EV). 

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan saat ini kajian mendalam mengenai pemberian insentif kendaraan listrik tengah masuk tahap pembahasan intensif bersama otoritas terkait dan para pelaku industri.

Khusus untuk sektor mobil listrik, Purbaya mengatakan telah membuka ruang diskusi dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

“Gaikindo mengundang mau pameran mobil, tapi juga diskusi misalnya kalau perlu insentif, insentif seperti apa untuk mobil listrik dan lain-lain,” ujar Purbaya yang dikutip dari Antara pada Jumat (10/4/2026).

Meski demikian, Purbaya menyebutkan pembahasan dengan Gaikindo tersebut masih bersifat awal dan akan berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya untuk mematangkan skema yang paling tepat.

Selain mobil, pemerintah memberikan perhatian khusus pada percepatan adopsi motor listrik. 

Menkeu menyatakan tengah menjalin koordinasi erat dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Rencananya, insentif ini akan dikhususkan bagi motor listrik generasi terbaru.

“Saya masih akan bicarakan dengan Menteri Perindustrian, kira-kira akan ada insentif untuk motor listrik yang baru,” tambah Purbaya.

Senada dengan Menkeu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membenarkan adanya komunikasi lintas kementerian tersebut. 

Namun, ia menekankan besaran angka insentif tersebut belum diputuskan.

"Masih dibicarakan," kata Menperin di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Menurut Menperin, langkah ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa masa depan transportasi Indonesia adalah berbasis listrik.

Hal ini krusial untuk menekan angka penggunaan bahan bakar fosil yang selama ini menjadi beban ekonomi dan lingkungan.

“Ya, karena memang sekarang semakin kelihatan kepentingannya untuk itu, untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil. Jadi memang tidak ada pilihan lain bahwa kita harus convert ke listrik,” tegas Agus Gumiwang.

Meski mendorong penuh migrasi ke listrik, pemerintah memastikan tidak akan mematikan produksi motor berbasis bahan bakar konvensional (BBM) dalam waktu dekat. 

Produksi motor konvensional akan difokuskan untuk memenuhi permintaan pasar ekspor, terutama menyasar kawasan-kawasan nontradisional di luar negeri.

Langkah ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan industri otomotif dalam negeri sembari perlahan beralih menuju teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: