Selat Hormuz Jadi Kartu Tawar Iran, Negosiasi dengan AS Mandek

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 12 April 2026 | 13:13 WIB
Ilustrasi gencatan senjata antara Amerika Serikat-Iran. (Foto/Gemini AI)
Ilustrasi gencatan senjata antara Amerika Serikat-Iran. (Foto/Gemini AI)

BeritaNasional.com - Kontrol atas Selat Hormuz kini menjadi senjata utama Iran dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Isu ini bahkan disebut sebagai titik krusial yang membuat perundingan kedua negara di Islamabad berjalan buntu.

Sejumlah laporan menyebut, perbedaan pandangan terkait pengelolaan jalur laut vital tersebut menjadi hambatan utama. Media yang berafiliasi dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menilai tuntutan Washington terlalu berlebihan, sehingga kesepakatan sulit tercapai.

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Posisi geografisnya membuat Iran memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Dalam perkembangan terbaru, Iran disebut telah memperketat kontrol dengan mewajibkan kapal berkoordinasi langsung dengan IRGC. Bahkan, sebagian kapal diarahkan melewati perairan Iran dan dikenakan biaya transit yang dilaporkan mencapai jutaan dolar per tanker.

Kondisi ini membuat ratusan kapal tanker tertahan di kawasan Teluk Persia. Data pelacakan pelayaran menunjukkan hanya segelintir kapal yang berhasil melintas sejak gencatan senjata diumumkan.

Tegangan Militer dan Ancaman Keamanan

Situasi di lapangan semakin kompleks setelah IRGC mengeluarkan peringatan keras. Kapal yang melintas tanpa izin disebut berisiko menjadi target militer.

Di sisi lain, militer Amerika mulai mengerahkan kekuatan untuk mengamankan jalur tersebut, termasuk operasi pembersihan ranjau laut guna memulihkan jalur pelayaran.

Presiden AS Donald Trump juga menegaskan bahwa stabilitas global sangat bergantung pada dibukanya kembali Selat Hormuz. Ia bahkan membuka kemungkinan kerja sama dalam pengelolaan jalur tersebut.

Strategi Iran: Tekanan Geopolitik Lewat Jalur Laut

Bagi Teheran, kontrol atas Selat Hormuz bukan sekadar isu keamanan, tetapi juga strategi geopolitik. Sejumlah analis menilai langkah ini sebagai upaya memaksimalkan posisi tawar dalam negosiasi internasional.

Media dalam negeri Iran menyebut Selat Hormuz sebagai “alat kekuatan” yang mampu memengaruhi perekonomian global. Pendekatan ini dinilai berhasil meningkatkan posisi Iran dalam perundingan, meski menuai kritik dari komunitas internasional.

Langkah Iran juga memicu perdebatan hukum. Berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), jalur seperti Selat Hormuz seharusnya terbuka untuk pelayaran internasional tanpa hambatan.

Namun, Iran berargumen bahwa situasi konflik memungkinkan penerapan kebijakan khusus, termasuk pembatasan akses sebagai langkah defensif.

Saat ini, parlemen Iran dikabarkan tengah menyiapkan regulasi baru untuk memperkuat klaim kontrol atas Selat Hormuz, termasuk kemungkinan menjadikannya jalur berbayar secara resmi.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: