Pakistan Terus Cari solusi bagi Konflik AS-Iran

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Selasa, 14 April 2026 | 11:50 WIB
Gencatan senjata AS-Iran (Beritanasional/Candra)
Gencatan senjata AS-Iran (Beritanasional/Candra)

BeritaNasional.com - Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan, berbagai upaya terus dilakukan untuk menyelesaikan beberapa isu yang belum terselesaikan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menyusul negosiasi antara delegasi kedua negara yang berseteru itu di Islamabad.

“Perundingan Islamabad merupakan momen bersejarah tersendiri,” kata Sharif.

Usai upaya diplomatik bersama Turki, Arab Saudi, dan Mesir, Pakistan berhasil mengamankan gencatan senjata selama 14 hari antara Washington dan Teheran. Ini terjadi usai pertempuran selama berminggu-minggu yang dipicu oleh penyerbuan bersama AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Wakil Presiden AS J.D. Vance dan delegasinya bertemu tim Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, yang memimpin negosiasi maraton selama 16 jam sepanjang akhir pekan lalu di ibu kota Pakistan.

Namun, Perundingan Islamabad, yang dianggap sebagai pertemuan paling bersejarah sejak AS dan Iran memutuskan hubungan diplomatik pada 1979 pada akhirnya gagal menghasilkan kesepakatan untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.

Sebelum bertolak kembali ke AS, Vance mengatakan kepada wartawan di Islamabad, Washington menuntut komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

“Sayangnya, kami tidak dapat mencapai kemajuan apa pun,” ujarnya.

Di lain pihak, Qalibaf mengatakan, sekarang terserah Washington untuk memutuskan apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan Teheran.

Secara terpisah, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif mengatakan, hingga kini tidak ada suasana negatif yang dirasaka usai perundingan tersebut.

“Saya tidak ingin berspekulasi, tetapi ada peluang,” katanya terkait prospek pembicaraan lebih lanjut antara AS dan Iran.

“Lebih banyak inisiatif sedang dilakukan mengenai kemungkinan pembicaraan di masa depan,” ujarnya.


Sumber: Antara
 sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: