Usai Jalani Masa Tahanan 7 Bulan, Nadiem Makarim Minta Maaf dan Akui Kelemahannya saat Menjabat Menteri

Oleh: Panji Septo R
Rabu, 15 April 2026 | 16:28 WIB
Terdakwa Nadiem Makarim. (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Terdakwa Nadiem Makarim. (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com -  Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, menyampaikan pernyataan emosional usai menjalani masa tahanan selama tujuh bulan. 

Meskipun menyatakan tuduhan terhadap dirinya tidak terbukti, Nadiem memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan permohonan maaf dan mengakui berbagai kekurangan selama masa jabatannya.

Nadiem mengungkapkan masa tujuh bulan di penjara memberinya waktu luang untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam. Ia mengakui kurang memahami budaya birokrasi dan aspek politik yang menyertai jabatannya.

"Saya juga menyadari bahwa saya ini punya banyak sekali kekurangan, punya banyak sekali kelemahan sebagai pemimpin muda di pemerintahan," ujar Nadiem di PN Jakpus dikutip Rabu (15/4/2026).

Nadiem mengakui gaya kepemimpinannya yang terlalu fokus pada profesionalitas sering kali mengabaikan etika birokrasi yang ada. 

Ia juga menyebut langkahnya membawa banyak profesional muda dari luar lingkungan pemerintahan ke dalam kementerian telah memicu gesekan di internal.

"Saya mengakui ini, bahwa saya masuk mungkin tidak selalu menghormati budaya birokrasi," tuturnya.

"Saya bawa banyak sekali orang dari luar masuk ke dalam profesional muda yang mungkin menciptakan gesekan-gesekan," tambahnya.

Nadiem merasa kurang santun dalam menyampaikan sesuatu dan tidak menghormati tokoh-tokoh masyarakat maupun politik.

Lebih lanjut, Nadiem menyadari peran seorang menteri tidak hanya soal bekerja secara teknis dan profesional, tetapi juga menjalankan fungsi politik. 

Ia menduga banyak pihak yang merasa tersinggung atas ucapan maupun perilakunya selama menjabat.

"Saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya kalau ada ucapan-ucapan atau perilaku saya pada saat menjadi menteri yang tidak berkenan," kata dia.

Nadiem juga sempat bercerita mengenai beratnya masa tahanan karena harus terpisah dari keluarga. 

Namun, ia mengaku terinspirasi tokoh-tokoh besar Indonesia yang pernah mengalami pengorbanan lebih berat darinya. Hal itulah yang membuatnya tetap optimis dalam menghadapi proses hukum.

"Saya percaya di ujung-ujungnya keadilan itu masih menjadi azas dasar daripada negara Indonesia yang saya cintai ini. Mohon doa bagi masyarakat kepada saya untuk mendapatkan keadilan," tutupnya.

 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: