Rusia Dorong Dialog Krisis Selat Hormuz, Bela Sikap Nuklir Iran

Oleh: Imantoko Kurniadi
Rabu, 15 April 2026 | 17:13 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Foto/X@drpezeshkian)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Foto/X@drpezeshkian)

BeritaNasional.com - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan pentingnya jalur diplomasi dalam meredakan ketegangan di Selat Hormuz.

Dalam kunjungannya ke China, Lavrov menyebut negara-negara Teluk memahami bahwa Iran tidak akan mengambil langkah ekstrem tanpa adanya tekanan dari Amerika Serikat.

Menurutnya, Moskow terus mendorong dialog antara Iran dan Amerika Serikat guna mencari solusi damai atas krisis tersebut.

Lavrov juga menegaskan Rusia akan menerima kesepakatan apa pun terkait pengayaan uranium selama sesuai dengan kepentingan Teheran. Ia menambahkan, pengawasan oleh International Atomic Energy Agency sejauh ini tidak menemukan bukti bahwa program nuklir Iran ditujukan untuk kepentingan militer.

“Badan Energi Atom Internasional tidak pernah mencatat bahwa pengayaan uranium Iran ditujukan untuk kepentingan militer,” ujar Lavrov, dikutip dari aljazeera, Rabu (15/4/2026).

“Saya berharap Amerika Serikat bersikap realistis dan menghentikan agresinya di Timur Tengah, yang bahkan merugikan sekutunya sendiri,” ucapnya lebih lanjut.

Negara Teluk Dorong Diplomasi Lanjutan

Di sisi lain, negara-negara Teluk disebut semakin aktif mendorong upaya diplomasi agar konflik tidak meluas. Ketergantungan tinggi pada jalur energi di Selat Hormuz membuat stabilitas kawasan menjadi prioritas utama.

Sebagian besar pendapatan negara Teluk berasal dari ekspor minyak yang melewati jalur tersebut, sehingga potensi penutupan Selat Hormuz dinilai sangat berisiko bagi ekonomi regional.

Dalam beberapa hari terakhir, komunikasi intensif dilaporkan terjadi antara Iran dengan sejumlah negara seperti Qatar dan Arab Saudi. Upaya ini bertujuan menjaga gencatan senjata tetap berjalan sekaligus membuka kembali ruang negosiasi.

Langkah diplomatik juga melibatkan Pakistan yang berperan sebagai mediator untuk mempertemukan kembali Iran dan Amerika Serikat di meja perundingan.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: