Pasar Saham Timur Tengah Lesu di Tengah Ketidakpastian Hormuz
BeritaNasional.com - Pasar saham kawasan Teluk bergerak melemah pada awal perdagangan, seiring meningkatnya ketidakpastian terkait Selat Hormuz dan kelanjutan negosiasi Amerika Serikat-Iran. Sentimen pasar ikut tertekan meski wacana gencatan senjata masih berlangsung rapuh.
Di Arab Saudi, indeks utama turun sekitar 0,3 persen dalam perdagangan yang cenderung bergejolak. Saham raksasa energi Saudi Aramco ikut menekan pasar dengan pelemahan 0,7 persen. Sementara itu di Qatar, indeks melemah 0,2 persen, dipimpin penurunan saham Ooredoo sebesar 1,5 persen.
Tekanan pasar muncul setelah harga minyak global terkoreksi tajam pada akhir pekan. Iran sebelumnya menyebut aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz dapat kembali berjalan selama masa gencatan senjata, sementara pernyataan dari Presiden AS Donald Trump menyebut Teheran tidak akan menutup kembali jalur strategis tersebut.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur penting distribusi energi dunia, yang sebelum konflik berlangsung mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global.
Ketegangan di kawasan ini telah memicu lonjakan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir, seiring gangguan terhadap jalur perdagangan utama tersebut.
Di sisi geopolitik, konflik yang telah berlangsung delapan minggu ini terus meluas, tidak hanya di kawasan Teluk, tetapi juga merembet ke Lebanon. Situasi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman menyatakan berada dalam status siaga tinggi. Menteri Pertahanan pemerintahan yang dipimpin Houthi, Mayjen Mohammed al-Atifi, menyebut pihaknya siap menghadapi setiap potensi serangan.
Ia juga menegaskan kelompok tersebut akan terus melancarkan serangan selama konflik masih berlangsung, termasuk dengan menggunakan rudal jarak jauh dan drone.
Houthi juga mengancam akan memperluas sasaran ke jalur pelayaran di Laut Merah, yang selama ini menjadi salah satu rute perdagangan paling strategis di dunia.
Ketidakpastian yang masih tinggi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, sementara prospek stabilisasi kawasan masih bergantung pada hasil pembicaraan politik yang belum menunjukkan titik terang.
PERISTIWA | 15 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu







