Selat Hormuz Kembali Memanas, Iran Isyaratkan Balasan ke AS

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 20 April 2026 | 07:39 WIB
Ilustrasi selat Hormuz. (Foto/Gemini AI).
Ilustrasi selat Hormuz. (Foto/Gemini AI).

BeritaNasional.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz kian meningkat. Seorang akademisi Teheran menilai situasi ini sudah memasuki fase eskalasi berbahaya, terutama setelah laporan penyitaan kapal kargo Iran oleh AS.

Asisten profesor Fakultas Studi Dunia Universitas Teheran, Zahra Kharazmi, menyebut langkah blokade AS dapat dianggap sebagai tindakan perang dalam perspektif hukum internasional.

“Dari sudut pandang Iran, blokade AS itu sendiri sudah merupakan tindakan perang. Penyitaan kapal di Selat Hormuz menunjukkan kita sedang menaiki tangga eskalasi,” ujarnya kepada Al Jazeera, dikutip Senin (20/4/2026).

Ia menegaskan, Iran menganggap jalur pelayaran di Selat Hormuz sebagai hak lintasan aman yang tidak boleh dijadikan sarana agresi.

“Bagi Iran, menjaga jalur aman di Hormuz adalah hak mereka. Mereka tidak ingin wilayah itu menjadi platform serangan terhadap negaranya,” lanjutnya.

Kharazmi juga memperingatkan bahwa peningkatan ketegangan ini bisa berkaitan dengan penguatan militer AS di kawasan.

“Ini eskalasi yang sangat buruk dan bisa menjadi bagian dari peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat,” katanya.

Menurutnya, Iran kemungkinan akan merespons, meski bentuknya belum pasti. “Iran bertekad melakukan balasan, tetapi caranya bisa berbeda-beda,” ujarnya, seraya menyebut kemungkinan penutupan Selat Bab el-Mandeb.

Harga Minyak Lonjak, Pasar Global Bergejolak

Dampak ketegangan ini langsung terasa di pasar global. Harga minyak melonjak tajam, dolar AS menguat, sementara kontrak berjangka saham melemah seiring ketidakpastian konflik.

Pada perdagangan awal Asia, harga minyak Brent naik sekitar 7 persen menjadi 96,85 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah AS juga meningkat 6,4 persen ke level 87,88 dolar AS per barel setelah perdagangan kembali dibuka di Chicago Mercantile Exchange.

Lonjakan ini dipicu kabar penutupan kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, yang meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan global.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: