Larvul Ngabal Dalam Ujian, Nus Kei Adalah Luka Kita Semua
BeritaNasional.com - Kabar penikaman terhadap Nus Kei datang seperti pukulan telak. Beliau adalah Ketua DPP Golkar Maluku Tenggara. Dalam struktur partai, beliau adalah rekan seperjuangan. Dalam konteks yang lebih luas, beliau adalah bagian dari jaringan kemanusiaan yang saling terhubung. Akan tetapi bagi masyarakat Kei, peristiwa ini terasa sebagai luka bersama yang menyentuh dimensi yang lebih dalam lagi, yakni kekeluargaan.
Situasi ini tidak berdiri sendiri. Pada bulan Maret 2026, bentrokan antar kelompok pemuda pecah di Desa Danar Ternate dan kawasan Ohoitom, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan. Konflik yang dipicu hal sepele yakni saling ejek, berubah menjadi kekerasan terbuka.
Satu nyawa melayang. Aparat yang mencoba meredam justru ikut terluka, bahkan Wakapolres dan Kasat terkena panah. Rumah-rumah rusak. Ketegangan menjalar. Maluku Tenggara saat ini benar-benar berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Reaksi awal yang muncul dapat dipahami. Emosi meningkat. Rasa tersinggung hadir. Dorongan untuk merespons secara langsung pun menguat. Ketika nama Kei disebut, yang muncul adalah ikatan yang melampaui identitas administratif. Ikatan ini dibangun oleh sejarah panjang, oleh nilai yang diwariskan lintas generasi, dan oleh kesadaran kolektif yang terus hidup.
Darah lebih kental daripada air.
Dalam konteks masyarakat Kei, ungkapan ini merepresentasikan tanggung jawab bersama. Ketika satu pihak mengalami luka, pihak lain turut merasakan. Ketika satu individu jatuh, yang lain terdorong untuk bertindak. Kesadaran kolektif ini menjadi fondasi yang menjaga kohesi sosial tetap kuat.
Namun pada saat yang sama, kekuatan tersebut juga menghadirkan tantangan. Ikatan yang kuat dapat menjadi penopang stabilitas, tetapi juga berpotensi memicu eskalasi ketika tidak dikendalikan. Api dapat menghangatkan dan menopang kehidupan. Dalam kondisi tertentu, api juga dapat berkembang menjadi kekuatan yang merusak. Rasa memiliki yang tinggi memerlukan pengendalian agar tidak berkembang menjadi reaksi yang berlebihan.
Larvul Ngabal sebagai Fondasi Etis
Selain solidaritas, masyarakat Kei memiliki sistem nilai yang berfungsi sebagai penyeimbang, yaitu hukum adat Larvul Ngabal. Hukum adat ini lahir dari pemahaman mendalam para leluhur terhadap dinamika manusia dan masyarakat. Larvul Ngabal berfungsi sebagai fondasi etis yang mengatur relasi sosial secara menyeluruh.
Larvul dimaknai sebagai darah merah, simbol kehidupan. Ngabal dimaknai sebagai tombak, simbol ketegasan dan batas. Keduanya membentuk satu kesatuan nilai yang menegaskan bahwa kehidupan sosial memerlukan keseimbangan antara rasa dan batas.
Falsafah tersebut ditegaskan dalam ungkapan adat “Manut ain mehe tilur, fuut ain mehe ngifun,” yang menunjukkan bahwa masyarakat Kei berasal dari satu asal-usul. Prinsip ini diperkuat oleh konsep “ain ni ain”, yang menegaskan bahwa seluruh anggota masyarakat berada dalam satu kesatuan.
Dalam praktiknya, nilai ini hadir dalam ungkapan “ain in ain”, yang bermakna saling memiliki, serta “ang waring”, yang menggambarkan relasi sebagai saudara. Relasi sosial dibangun dalam kerangka kekeluargaan yang menempatkan setiap individu sebagai bagian dari keseluruhan.
Menjaga Kendali di Tengah Emosi
Dalam situasi seperti saat ini, kemarahan dapat dipahami sebagai respons manusiawi. Dendam dapat muncul sebagai reaksi spontan. Namun Larvul Ngabal memberikan arah yang berbeda. Pengendalian diri ditempatkan sebagai nilai utama dalam menjaga keberlanjutan persaudaraan.
Peristiwa di Ohoitom dan Danar Ternate pada bulan Maret 2026 silam, menjadi pengingat keras. Konflik besar seringkali lahir dari hal kecil yang dibiarkan membesar tanpa kendali. Saling ejek yang seharusnya berhenti sebagai kata, berubah menjadi luka fisik, bahkan kehilangan nyawa. Ketika emosi mengambil alih, nilai adat yang seharusnya menjadi penuntun justru tersingkir. Ini titik kritis yang sedang dihadapi.
Ungkapan adat lain yang hidup dalam masyarakat Kei adalah “Duad nit rataha batang rahang it,” yang berarti semoga Tuhan melindungi kita semua. Ungkapan ini mencerminkan kesadaran bahwa tindakan manusia tidak terlepas dari nilai yang lebih tinggi.
Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Setiap langkah akan kembali pada tatanan yang lebih besar, yaitu hukum adat dan nilai yang dijaga bersama. Tidak ada posisi yang sepenuhnya berada di atas nilai tersebut. Semua berada dalam lingkup yang sama.
Dalam tradisi Kei, nasihat dan peringatan menjadi langkah awal dalam penyelesaian persoalan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa menjaga nilai jauh lebih diutamakan dibandingkan melampiaskan reaksi sesaat.
Pada akhirnya, kekeluargaan menuntut kemampuan untuk menjaga. Menjaga diri. Menjaga relasi. Menjaga nama baik. Menjaga juga berarti menahan diri ketika dorongan emosi berada pada titik tertinggi.
Darah yang sama perlu dijaga dengan kehati-hatian. Ketika konflik berkembang, dampaknya dapat merambat pada nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama.
Ketenangan menjadi pilihan yang relevan dalam situasi ini. Proses hukum perlu dijalankan secara optimal. Mengawal proses tersebut dengan kesadaran kolektif mencerminkan sikap yang lebih bermartabat. Sebaliknya, pelampiasan emosi berisiko memperpanjang siklus konflik yang sulit diselesaikan.
Maluku Tenggara hari ini sedang diuji. Ujian ini tidak hanya soal keamanan, tetapi soal apakah nilai-nilai yang diwariskan masih benar-benar hidup dalam tindakan. Larvul Ngabal tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijalankan, terutama di saat situasi paling genting seperti sekarang.
Oleh: Prof Ali Mochtar Ngabalin
Anak Turunan Famur Danar Kei Maluku Tenggara, Maluku

BUDAYA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 23 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu







