Tertinggal 0-1 dari Spurs, Thunder Harus Matikan Pergerakan Wembanyama di Game 2
BeritaNasional.com - Status juara bertahan tidak membuat Oklahoma City Thunder panik meski harus menelan kekalahan tipis 122-115 lewat drama double overtime dari San Antonio Spurs di Game 1 Final Wilayah Barat. Bagi skuad asuhan Mark Daigneault, situasi tertinggal 0-1 dalam sebuah seri playoff bukanlah akhir dari segalanya.
Musim lalu, dalam perjalanan mereka merengkuh gelar juara NBA, Thunder bahkan dua kali bangkit dari kekalahan Game 1, masing-masing saat bersua Denver Nuggets di Semifinal Wilayah Barat dan Indiana Pacers di Final NBA.
Mentalitas juara inilah yang modal utama mereka untuk menatap Game 2 yang akan digelar pada Rabu (20/5/2026) malam waktu setempat.
"Pertandingan pertama adalah titik awal, bukan titik akhir," tegas Mark Daigneault yang dikutip dari laman resmi NBA pada Rabu.
"Tim ini sangat memahami seberapa panjangnya perjalanan di babak playoff. Itulah mahalnya sebuah pengalaman," tambahnya.
Untuk bisa menyamakan kedudukan, berikut adalah tiga hal krusial yang wajib dibenahi Thunder menjelang Game 2:
1. Merumuskan Formula untuk Meredam Victor Wembanyama
Menjaga Victor Wembanyama terbukti menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Thunder di Game 1. Pemain asal Prancis itu tampil dominan dengan melesakkan 13 dari 21 tembakan di area dalam.
Strategi Thunder yang memasang Alex Caruso untuk bermain fisik dengan Wembanyama dinilai belum cukup. Skuad OKC tampaknya harus mulai memaksimalkan barisan pemain berpostur besar seperti Chet Holmgren, Isaiah Hartenstein, hingga Jalen Williams.
Menariknya, Wembanyama mencatatkan rekor menit bermain tertinggi dalam kariernya di Game 1, yaitu 48 menit 42 detik. Padahal, ia tidak pernah bermain lebih dari 40 menit sepanjang musim reguler. Situasi ini bisa menjadi celah bagi Thunder untuk menerapkan strategi jangka panjang. Menguras fisik Wembanyama lewat jadwal tanding yang padat agar efektivitasnya menurun di sisa seri ini.
2. Kebangkitan Efisiensi Tembakan Shai Gilgeous-Alexander
Jika Wembanyama bermain kesurupan di Game 1, Shai Gilgeous-Alexander (SGA) diprediksi akan mengusung misi balas dendam di Game 2 akibat performanya yang kurang efisien.
Secara statistik, kontribusi SGA sebenarnya tidak buruk dengan torehan 24 poin, 12 assist, dan 5 steal. Namun, akurasi tembakannya merosot tajam menjadi hanya 7 dari 23 tembakan (1 dari 5 di babak pertama).
Catatan ini tentu di bawah standar SGA yang memiliki rata-rata akurasi 55,3 persen musim ini. Kendati demikian, jajaran pelatih Spurs tetap mewaspadai kebangkitan sang MVP.
"Dia sempat melewatkan beberapa tembakan yang biasanya masuk. Saat menghadapi pemain sekelas dia, Anda hanya bisa berharap tembakannya meleset sambil berusaha membuatnya lebih kesulitan," ujar pelatih interim Spurs, Mitch Johnson.
3. Mengaktifkan Kembali Chet Holmgren di Sektor Serangan
Chet Holmgren tampil luar biasa pada dua putaran playoff sebelumnya dengan rata-rata 18,6 poin dan akurasi mencapai 60 persen. Namun, di Game 1 kontra Spurs, Holmgren seperti terisolasi dan hanya membukukan 8 poin serta 8 rebound.
Ia bahkan baru melepaskan tembakan pertamanya saat kuarter kedua menyisakan 42 detik.
Satu-satunya sorotan positif dari Holmgren di Game 1 adalah blok krusialnya terhadap Wembanyama di akhir kuarter keempat yang memaksakan laga berlanjut ke babak penentuan.
Daigneault mengakui bahwa skema serangan Thunder secara kolektif harus diperbaiki agar Holmgren bisa mendapatkan ruang tembak yang lebih ideal.
"Dia pemain bertinggi 216 cm yang sangat terampil. Jika aliran bola kita membaik, dia akan kembali mendominasi," tandas Daigneault.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







