Ini Pengertian Leverage Ratio Formula dan Perhitungannya

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Jumat, 22 Mei 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi  leverage ratio formula. (BeritaNasional/freepik)
Ilustrasi leverage ratio formula. (BeritaNasional/freepik)

BeritaNasional.com -  Perusahaan yang terlihat berkembang bukan berarti memiliki kondisi keuangan yang benar-benar sehat. Bisa saja pertumbuhannya didorong oleh utang yang cukup besar.

Melalui leverage ratio formula, kamu bisa melihat gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana perusahaan mengelola utang dan modalnya.

Rasio ini membantu untuk memahami tingkat risiko keuangan sekaligus kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya sehingga kamu tidak hanya terpaku pada angka keuntungan saja. Nah untuk memahaminya berikut ulasan singkatnya yang dikutip dari laman Pegadaian.
 

Apa Itu Leverage Ratio?

Leverage ratio atau rasio leverage adalah rasio keuangan yang menunjukkan seberapa besar utang perusahaan dibandingkan dengan modal atau aset yang dimiliki.

Melalui rasio ini, kamu bisa melihat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya, terutama utang jangka panjang yang jatuh tempo lebih dari satu tahun.

Dalam penggunaannya, leverage ratio formula dapat membantu menghitung perbandingan antara total utang dengan aset atau ekuitas.

Nantinya, kamu bisa memperoleh gambaran apakah struktur keuangan perusahaan masih sehat atau justru terlalu bergantung pada pinjaman. Karena itu, rasio ini juga sering disebut sebagai rasio solvabilitas.

Banyak pihak menggunakan leverage ratio untuk analisis, mulai dari investor, analis keuangan, hingga pemberi pinjaman.

Rasio ini juga dipakai untuk menilai siapa yang lebih dominan dalam kepemilikan aset, apakah pemegang saham atau kreditur. Jika nilainya terlalu tinggi, itu bisa menjadi tanda risiko keuangan yang perlu diperhatikan.
 

Jenis-jenis Leverage Ratio dan Rumusnya

Dalam praktik analisis keuangan, ada beberapa jenis leverage ratio formula yang umum digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan finansial perusahaan.

Setiap rasio memiliki fungsi berbeda, mulai dari menilai kemampuan perusahaan membayar hutang hingga melihat struktur pendanaan bisnis secara keseluruhan. Berikut penjelasannya.

 

1. Debt to Assets Ratio (Rasio Utang Terhadap Aset)

Debt to assets ratio (DAR) digunakan untuk mengetahui seberapa besar porsi aset perusahaan yang berasal dari utang.

Melalui rasio ini, kamu bisa melihat seberapa jauh perusahaan bergantung pada dana pinjaman dalam membiayai dan mengelola asetnya. Adapun rumus debt to assets ratio, yaitu:

DAR = Total Utang / Total Aset

Jika hasilnya tinggi, artinya sebagian besar aset perusahaan berasal dari pembiayaan utang. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko keuangan jika perusahaan kesulitan melunasi kewajibannya.

 

2. Debt to Equity Ratio (Rasio Utang Terhadap Ekuitas)

Debt to equity ratio (DER) menunjukkan perbandingan antara total utang dengan modal yang dimiliki perusahaan.

Rasio ini sering digunakan investor dan kreditur untuk menilai keseimbangan struktur pendanaan perusahaan. Berikut ini rumusnya:

DER = Total Utang / Total Ekuitas

Semakin besar nilai DER, semakin besar pula ketergantungan perusahaan pada utang dibandingkan modal sendiri.

 

3. Debt to Capital Ratio (Rasio Utang Terhadap Modal)

Rasio ini digunakan untuk melihat perbandingan antara total utang dengan keseluruhan modal perusahaan, yang terdiri dari utang dan ekuitas.

Melalui rasio ini, kamu bisa menilai apakah struktur permodalan bisnis sudah seimbang atau masih terlalu bertumpu pada utang. Rumusnya adalah sebagai berikut.

Debt to Capital Ratio = Total Utang / (Total Utang + Total Ekuitas)

Jika hasilnya tinggi, hal ini bisa menjadi tanda bahwa perusahaan memiliki beban utang yang cukup besar sehingga berisiko menimbulkan tekanan keuangan di kemudian hari.

 

4. Debt to EBITDA Ratio (Rasio Utang Terhadap Laba Kotor)

Debt to EBITDA ratio dipakai untuk menilai kemampuan perusahaan melunasi utangnya berdasarkan kinerja operasionalnya.

EBITDA sendiri merupakan singkatan dari Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization, yaitu pendapatan perusahaan sebelum dikurangi bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi.

Secara sederhana, angka ini sering dianggap sebagai gambaran laba operasional kotor. Berikut rumusnya:

Debt to EBITDA Ratio = Total Utang / EBITDA

Semakin rendah hasilnya, semakin baik kemampuan perusahaan dalam menutup kewajiban utangnya. Sebaliknya, rasio yang terlalu tinggi bisa menandakan risiko gagal bayar.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: