Gangguan GPS Pesawat Jadi Sorotan Global, AirNav Pastikan Sistem Aman
BeritaNasional.com - AirNav Indonesia memastikan kesiapan dalam menangani dan mengantisipasi potensi gangguan sinyal GPS atau navigasi pada pesawat udara yang dikenal sebagai GNSS RFI (Radio Frequency Interference).
Direktur Utama AirNav Indonesia, Avirianto Suratno, mengatakan fenomena tersebut telah lama dikenal dalam dunia penerbangan internasional. Karena itu, AirNav Indonesia telah menerapkan prosedur standar yang komprehensif untuk mengantisipasinya.
“Penanganan GNSS RFI merupakan salah satu agenda keselamatan global yang dicanangkan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization). Terkait ini, AirNav Indonesia telah melakukan antisipasi melalui penerapan prosedur standar yang komprehensif,” ungkapnya dikutip dari Antara, Kamis (21/5/2026).
Avirianto menjelaskan, sistem navigasi pesawat modern mengandalkan Global Navigation Satellite System (GNSS) yang bekerja dengan menerima sinyal dari konstelasi satelit yang mengorbit bumi.
Menurut dia, akurasi dan integritas sinyal tersebut diperkuat melalui sistem augmentasi yang terdiri atas Aircraft-Based Augmentation System (ABAS), Ground-Based Augmentation System (GBAS), dan Satellite-Based Augmentation System (SBAS).
Ia menyebut, sinyal satelit yang diterima di permukaan bumi bekerja pada level daya rendah sehingga sistem navigasi dirancang berlapis untuk menjaga akurasi dan integritas sinyal di berbagai kondisi lapangan.
“Gangguan frekuensi radio dari berbagai sumber terhadap sinyal inilah yang secara teknis disebut GNSS RFI,” katanya.
Lebih lanjut, Avirianto menyampaikan bahwa International Civil Aviation Organization atau ICAO telah menjadikan GNSS RFI sebagai salah satu agenda prioritas keselamatan penerbangan global dalam beberapa tahun terakhir.
ICAO, kata dia, juga telah menerbitkan prosedur standar internasional bagi negara anggota untuk mendeteksi, melaporkan, dan merespons gangguan GNSS.
Selain itu, ICAO merekomendasikan negara-negara untuk tetap mempertahankan infrastruktur navigasi teresterial sebagai lapisan pelengkap GNSS.
“AirNav Indonesia, sebagai penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di seluruh wilayah udara Indonesia, telah mengimplementasikan ketentuan tersebut secara penuh dalam kegiatan operasional sehari-hari,” terangnya.
Saat ini, AirNav Indonesia mengoperasikan jaringan infrastruktur navigasi teresterial yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta FIR dan Makassar FIR, mulai dari bandar udara utama hingga wilayah terpencil di Indonesia.
Salah satu fasilitas yang dioperasikan adalah Very High Frequency Omnidirectional Range (VOR), perangkat pemancar sinyal radio VHF dari stasiun darat dengan jangkauan hingga 200 nautical miles dan bekerja independen dari sinyal satelit.
“AirNav Indonesia saat ini mengoperasikan fasilitas DVOR (Doppler VOR) dengan akurasi lebih tinggi dibandingkan VOR konvensional,” ujar dia.
Sumber: Antara
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
BUDAYA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 17 jam yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu







