Dugaan Penipuan Riset demi Travel Grant di Forum Dunia Jadi Sorotan, Begini Kronologi hingga Klarifikasinya

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 28 Mei 2026 | 20:10 WIB
Para WNI yang diduga melakukan penipuan riset di tingkat dunia. (BeritaNasional/IG Mandhara Brasika)
Para WNI yang diduga melakukan penipuan riset di tingkat dunia. (BeritaNasional/IG Mandhara Brasika)

BeritaNasional.com - Kasus dugaan pemalsuan riset oleh sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dalam forum ilmiah internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, menjadi sorotan di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Dugaan tersebut pertama kali ramai dibahas usai unggahan akun Threads milik peneliti Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika.

Dalam unggahannya yang dilansir pada Kamis (28/5/2026), Mandhara menyebut ada dugaan penggunaan riset tidak valid untuk memperoleh travel grant atau bantuan pendanaan perjalanan konferensi internasional. Ia juga menyebut adanya dugaan penggunaan identitas berbeda saat presentasi berlangsung.

Nama yang disebut dalam polemik tersebut antara lain Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti. Ketiganya diduga mengikuti konferensi menggunakan hasil penelitian yang dipertanyakan validitasnya. Dugaan lain yang muncul ialah penggunaan data berbasis AI atau fabrikasi data dalam materi penelitian.

Tak hanya itu, muncul juga dugaan bahwa ketiga orang WNI ini berganti-ganti kostum layaknya cosplayer, dan berganti-ganti nametag peserta, agar dianggap bahwa yang presentasi adalah orang yang berbeda. Ketiganya pun dituding mencatut sejumlah nama kampus dan lembaga riset di dalam negeri dan luar negeri, lembaga afiliasi yang bodong, serta mengaku bergelar ilmu kesehatan padahal lulusan Matematika. 

Terlebih, Mandhara mengungkap bahwa penipuan serupa tidak hanya dilakukan kali ini, tapi komplotan ini sudah sering melakukan penipuan dengan modus serupa. 

ISPPD sendiri merupakan konferensi internasional bidang pneumonia dan penyakit pneumokokus. Dalam laman resminya, panitia menjelaskan bahwa travel grant diberikan kepada peserta yang abstraknya diterima dalam program ilmiah konferensi dan memenuhi sejumlah persyaratan tertentu.

Klarifikasi Peneliti yang Dituding

Melalui unggahan klarifikasi di akun Instagram @rifaldy.fajar04, Rifaldy dan tim menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Mereka mengakui terdapat sejumlah kesalahan dalam partisipasi konferensi yang diikuti.

Dalam klarifikasinya, Rifaldy menyebut kehadiran langsung di konferensi Copenhagen hanya diwakili satu anggota tim, yakni Prihatini. Ia juga menegaskan beberapa nama yang dicantumkan sebenarnya tidak terlibat langsung dalam penyusunan karya maupun aktivitas konferensi.

Rifaldy dan tim turut meminta maaf terkait penggunaan nama sejumlah institusi pendidikan tanpa persetujuan resmi. Mereka mengakui hal tersebut merupakan kekeliruan dari pihak mereka.

Selain itu, mereka menjelaskan sebagian besar karya yang dibawa masih berupa abstrak, poster, dan presentasi awal yang belum menjadi publikasi final peer-reviewed.

Terkait isi presentasi, Rifaldy dan tim juga mengakui ada beberapa penyampaian yang kurang tepat dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik. Mereka menyatakan bertanggung jawab penuh atas kekeliruan tersebut dan menjadikannya sebagai evaluasi ke depan.

Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perhatian publik, terutama di kalangan akademisi dan peneliti. Klarifikasi yang disampaikan Rifaldy dan tim pun memunculkan kembali pembahasan mengenai etika akademik, transparansi penelitian, serta pentingnya ketelitian dalam mencantumkan identitas maupun afiliasi dalam forum ilmiah internasional.

Namun demikian, netizen dan sejumlah peneliti memperdebatkan klarifikasi Rifaldy yang intinya tidak mengakui kesalahannya, meskipun bagi para netizen dan sejumlah peneliti, fraud atau penipuan yang dilakukan ketiga orang itu sangat gamblang. 

(Rep: Bunga)sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: