DPR Dorong Hasil Asesmen Akademik Jadi Dasar Perbaikan Pendidikan Nasional
BeritaNasional.com - Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie menegaskan hasil asesmen akademik peserta didik harus menjadi pijakan utama dalam pembenahan sistem pendidikan nasional.
Ia menilai data tersebut membutuhkan komitmen kolektif dari seluruh pemangku kepentingan untuk benar-benar diwujudkan dalam kebijakan.
Rerie mengingatkan data asesmen kini sudah tersedia hingga tingkat satuan pendidikan dan individu, sehingga kesiapan seluruh pihak dalam mengubah pola pembelajaran menjadi tantangan.
“Data rinci hingga tingkat sekolah dan kompetensi individu sudah di tangan,” ujar Rerie dalam keterangan tertulis dikutip Jumat (29/5/2026).
“Pertanyaannya sekarang, apakah kita semua, pemerintah pusat, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, hingga orang tua siap mengubah pola pengajaran dan pendampingan?” tambahnya.
Menurut data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, lebih dari 8,7 juta murid SD dan SMP telah mengikuti asesmen tersebut.
Catatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan tingkat partisipasi nasional mencapai 98,51%, dengan seluruh provinsi berada di atas 95%.
Angka itu dianggap sebagai peta akurat mengenai kondisi kekuatan dan kelemahan pendidikan di Indonesia.
Ia juga mengutip hasil TKA capaian literasi nasional rata-rata berada di angka 60 untuk jenjang SD dan 60,83 untuk SMP, sementara numerasi tercatat pada 43,41 untuk SD dan 40,34 untuk SMP.
Meski demikian, ia menegaskan hasil asesmen tidak dimaksudkan untuk membandingkan sekolah atau daerah, melainkan untuk merancang intervensi yang tepat.
Menurutnya, perlu dilakukan penyesuaian berupa bimbingan teknis guru, penyediaan alat peraga, hingga revisi metode pembelajaran jika numerasi siswa di suatu kabupaten rendah.
“Tidak boleh ada kebijakan yang seragam untuk masalah yang berbeda-beda,” ucapnya.
Ia menambahkan pemerintah pusat dan daerah wajib mengalokasikan anggaran tidak hanya untuk pelaksanaan tes, tetapi juga untuk program remedial berbasis data.
“Jangan sampai biaya besar untuk pemetaan, tapi tindak lanjutnya minim,” tegasnya.
Lebih jauh, Rerie menyebut satuan pendidikan dan guru harus mengubah fokus dari sekadar mengejar nilai menuju pembangunan kompetensi dan karakter.
“Evaluasi bagi para guru harus didorong untuk menumbuhkan nalar siswa, bukan sekadar hafalan, serta menanamkan kejujuran atau integritas,” jelasnya.
Ia juga menekankan peran orang tua dalam mendukung proses belajar yang bermakna di rumah dan mengawal kebijakan pendidikan agar benar-benar dijalankan.
“Sistem pendidikan kita butuh komitmen kolektif yang kuat untuk menjalankan kebijakan berdasarkan bukti, bukan berdasarkan ambisi sesaat.” kata dia.
“TKA sudah memberi kita peta jalan, sekarang kita semua harus berani melangkah,” pungkasnya.
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu







