WHO Desak Pembatalan Boikot Perjalanan Terkait Wabah Ebola di Kongo dan Uganda

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 31 Mei 2026 | 19:00 WIB
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto/Dok WHO)
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto/Dok WHO)

BeritaNasional.com - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak negara-negara dunia untuk meninjau ulang kebijakan pembatasan perjalanan dan penutupan perbatasan.

Langkah isolasi tersebut diambil sejumlah negara menyusul merebaknya wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Sejauh ini, Kanada dan Amerika Serikat (AS) telah memberlakukan pembatasan perjalanan yang ketat sekaligus menangguhkan pemberian visa bagi warga dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan.

Tak hanya negara lintas benua, penutupan akses juga terjadi di tingkat regional. Dua negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Kongo, yakni Rwanda dan Uganda, turut membatasi pergerakan warga.

Rwanda bahkan menerapkan aturan tegas dengan melarang masuknya warga negara asing yang memiliki riwayat perjalanan ke Kongo dalam 30 hari terakhir.

Pembatasan Perjalanan Dinilai Hambat Transparansi

Dalam konferensi pers yang digelar di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri yang menjadi episentrum penularan, Ghebreyesus menegaskan penutupan perbatasan bukan solusi utama dalam menyudahi krisis kesehatan ini.

Bagi WHO, persatuan dan solidaritas internasional justru merupakan senjata paling ampuh untuk meredam epidemi.

Ia mengkhawatirkan kebijakan boikot perjalanan ini justru akan memicu dampak negatif yang lebih besar, salah satunya adalah keengganan negara terdampak untuk melaporkan data kasus secara jujur.

"Kami tidak datang untuk memberi tahu masyarakat apa yang harus dilakukan. Kami datang untuk mendengarkan. Masyarakat memahami tantangan mereka sendiri dan solusi mereka sendiri. Peran kami adalah mendukung Anda dalam menerapkan solusi tersebut, bersama-sama," ujar Ghebreyesus pada Sabtu (30/5/2026).

Ganasnya Strain Bundibugyo yang Belum Punya Vaksin

Wabah yang tengah melanda wilayah Afrika Tengah ini diketahui dipicu oleh Ebola strain Bundibugyo. Kondisinya kian mengkhawatirkan mengingat hingga saat ini belum ada satu pun jenis vaksin maupun metode pengobatan resmi yang disetujui untuk menangani strain tersebut.

Saat ini, penyebaran strain Bundibugyo masih terkonsentrasi di tiga provinsi bagian timur Kongo, yaitu Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.

Berdasarkan data mutakhir yang dirilis WHO pada Jumat (29/5/2026), tercatat sudah ada sedikitnya 134 kasus yang terkonfirmasi positif di Kongo dan Uganda, dengan angka kematian mencapai 18 jiwa.

Kondisi di lapangan diprediksi bisa jauh lebih buruk. Otoritas kesehatan Kongo melaporkan bahwa temuan kasus suspek baru terus bermunculan setiap harinya.

Sejak wabah ini resmi diumumkan pada 15 Mei lalu, jumlah kumulatif kasus suspek di sana bahkan telah menembus angka lebih dari 1.000 kasus.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: