Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.000-an, BI Terus Tingkatkan Intensitas Intervensi

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Kamis, 04 Juni 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi nilai Rupiah anjlok terhadap Dolar AS (BeritaNasional/Pixabay)
Ilustrasi nilai Rupiah anjlok terhadap Dolar AS (BeritaNasional/Pixabay)

BeritaNasional.com - Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar valas lewat intensitas yang lebih tinggi di tengah pelemahan rupiah yang makin parah. Saat ini 1 Dolar AS bernilai sekitar 18 ribu rupiah.

"BI terus hadir untuk meningkatkan intervensi di tengah pelemahan rupiah. Kami berusaha menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap terjadi, ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.

Saat ini, lanjut Destry, BI juga terus memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market. Hal ini dilakukan agar aliran modal masuk ke instrumen aset domestik tetap terjaga.

“Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Hal ini juga dilakukan dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” terangnya.

Destry mengatakan, koordinasi serta komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya juga terus dilakukan secara intensif dan terus-menerus.

Destry mengatakan, sejatinya lemahnya nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh konflik geopolitik Timur Tengah. Hingga kini AS dan Iran belum menemukan kesepakatan damai, dan Selat Hormuz masih dipenuhi dengan ketegangan dan konflik.

Konflik di Selat Hormuz juga mendorong harga minyak tetap tinggi. Hal ini menyebabkan peningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara-negara emerging.

Selain itu, kebutuhan valas di domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

Menurut Destry, pelemahan rupiah secara umum masih sejalan dengan regional, dengan pelemahan secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd) -7,44 persen.

Meski demikian, BI terus memastikan cadangan devisa tetap terjaga yakni berada pada level 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026.


Sumber: Antarasinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: