Pakar Ungkap 2 Cara AS Kendalikan Netanyahu, Bukan Lewat Telepon

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 08 Juni 2026 | 18:09 WIB
Benjamin Netanyahu melakukan kejahatan perang (Foto/Sky News)
Benjamin Netanyahu melakukan kejahatan perang (Foto/Sky News)

BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump didorong untuk mengambil langkah tegas dalam mengendalikan kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Salah satu cara yang dianggap efektif adalah dengan mengurangi dukungan militer Amerika Serikat terhadap Israel.

Pandangan ini disampaikan Trita Parsi, dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, yang menilai pendekatan melalui komunikasi langsung tidak cukup untuk memengaruhi kebijakan Netanyahu.

Menurut Parsi, jika Trump ingin memastikan Israel tetap sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat, maka diperlukan langkah yang lebih konkret daripada sekadar percakapan diplomatik.

“Jika Anda ingin menghentikan Netanyahu, jika Anda ingin dia mematuhi kepentingan presiden Amerika dan kepentingan AS, Anda tidak bisa melakukannya hanya dengan menelepon,” kata Parsi.

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat perlu membatasi ruang gerak militer Israel agar tidak leluasa dalam mengambil tindakan, termasuk dalam potensi konflik terhadap Iran.

“Anda harus mengambil langkah-langkah untuk membatasi manuver Israel dan pada dasarnya mengambil kemampuan mereka untuk benar-benar menyerang Iran,” ujarnya.

Parsi menjelaskan ada dua titik tekanan utama yang dapat digunakan Washington, yakni akses Israel terhadap intelijen Amerika Serikat serta sistem pertahanan udara dan rudal berlapis yang selama ini didukung penuh oleh AS.

Menurutnya, tanpa dukungan aktif dari Amerika Serikat, Israel tidak akan mampu menjalankan operasi militer secara independen dalam skala besar.

“Tanpa dukungan aktif Amerika, Netanyahu tidak bisa melakukan ini. Jadi ini tentang Trump yang mengambil dukungan itu dari Netanyahu untuk memaksanya mengikuti kepentingan AS,” kata Parsi.

Pernyataan ini menyoroti kembali ketergantungan militer Israel terhadap Amerika Serikat, sekaligus membuka perdebatan baru mengenai arah kebijakan luar negeri Washington di bawah kepemimpinan Trump, terutama dalam konteks ketegangan di Timur Tengah.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: