Ajukan Dana Raksasa $87,6 Miliar untuk Perang Iran, Trump Picu Kritik
BeritaNasional.com - Permintaan pendanaan tambahan sebesar 87,6 miliar dolar AS dari Gedung Putih yang sebagian besar dialokasikan untuk perang di Iran memicu gelombang kritik dari Partai Demokrat di Kongres Amerika Serikat.
Dari total anggaran tersebut, sekitar 67,15 miliar dolar AS direncanakan untuk kebutuhan militer, termasuk biaya operasional perang, pengisian kembali stok senjata, serta sejumlah program rahasia.
Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menilai permintaan dana tersebut tidak tepat di tengah kondisi ekonomi yang masih dibebani inflasi dan tekanan biaya hidup.
“Seharusnya kita menurunkan biaya hidup rakyat Amerika, bukan memberikan cek kosong lagi untuk Trump,” tulis Schumer di platform X, Kamis (25/6/2026).
Senator Patty Murray, tokoh utama Partai Demokrat di Komite Alokasi Senat, juga menyatakan akan meninjau proposal tersebut secara detail.
Ia menegaskan dukungannya terhadap perlindungan pasukan AS, namun menolak pengucuran dana dalam jumlah besar tanpa pengawasan ketat.
“Saya tidak akan menyetujui begitu saja puluhan miliar dolar untuk perang pilihan yang merusak ini,” ujarnya.
Penolakan Keras dari Sayap Progresif
Penolakan lebih keras datang dari anggota DPR dari kubu progresif, Pramila Jayapal, yang secara tegas menyatakan sikap “penolakan mutlak”.
Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai dampak dari perang mahal yang dipimpin Trump di Iran, yang menurutnya justru memperburuk kondisi fiskal negara.
Di sisi lain, lembaga independen Committee for a Responsible Federal Budget turut memberikan peringatan. Mereka meminta Kongres meninjau setiap dolar dalam proposal tersebut secara ketat, serta memastikan adanya sumber pendanaan yang jelas melalui pajak baru atau pemotongan anggaran lain.
Lembaga tersebut menyoroti bahwa Amerika Serikat saat ini berada dalam kondisi utang yang mendekati rekor tertinggi, sehingga tambahan belanja tanpa kompensasi dinilai berisiko bagi stabilitas fiskal jangka panjang.
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu






