Ratusan Orang Meninggal Dunia Akibat Gelombang Panas di Eropa

Oleh: Kiswondari
Jumat, 26 Juni 2026 | 23:31 WIB
Sungai Thames di London, Inggris. (BeritaNasional/Visit London)
Sungai Thames di London, Inggris. (BeritaNasional/Visit London)

BeritaNasional.com - Cuaca panas ekstrem dan gelombang panas yang menyengat di wilayah Eropa telah menyebabkan ratusan orang meninggal dunia di benua tersebut pada pekan ini. Spanyol melaporkan jumlah kematian tertinggi karena suhu yang melampaui 40 derajat Celcius (104 Farenheit) dan menjadi rekor suhu tertinggi di seluruh benua.

Melansir Russian Today (RT) pada Jumat (26/6/2026), otoritas Spanyol pun mengaitkan lebih dari 200 kematian dengan cuaca panas ekstrem, berdasarkan sistem pemantauan angka kematian negara tersebut. Jerman juga telah melaporkan lebih dari 20 kematian, yang di antaranya banyak akibat tenggelam saat orang-orang mencari perlindungan (dari panas) di sungai, danau, dan kolam renang.

Kemudian, Prancis pun mengonfirmasi beberapa kematian terkait panas, termasuk anak-anak. Dan Italia juga melaporkan banyak kematian karena rumah sakit merawat semakin banyak pasien yang menderita serangan panas dan dehidrasi.

Sebagai informasi, helombang panas melanda sebagian besar Eropa Barat dan Selatan, dan Paris mencatat hari terpanas di bulan Juni sepanjang sejarah dengan suhu 40,9 derajat Celcius dan Inggris mencatatkan suhu tertinggi sepanjang masa dengan suhu 36,4 dearajat Celcius. Begitu juga dengan Swiss yang mencetak rekor baru pada bulan Juni.

Untuk pihak berwenang di seluruh wilayah tersebut juga mengeluarkan peringatan merah, menutup sekolah, membatalkan layanan kereta api, dan mendesak warga untuk tetap berada di dalam ruangan saat hari teramat panas.

Di sisi lain, para ahli meteorologi menghubungkan suhu ekstrem tersebut dengan "heat dome" atau kubah panas yang terus-menerus memerangkap udara panas di atas Eropa dan mencegah sistem cuaca yang lebih dingin masuk. Kondisi ini sangat berbahaya di kota-kota padat penduduk, di mana beton dan aspal menahan panas sepanjang malam, sehingga hanya memberikan sedikit pendinginan setelah matahari terbenam.

Meningkatnya jumlah korban jiwa ini kembali mengingatkan pada gelombang panas dahsyat di Eropa tahun 2003, yang diperkirakan telah menyebabkan puluhan ribu kematian tambahan di seluruh benua, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah modern Eropa.

Menurut para ahli, Eropa tetap sangat rentan karena sebagian besar perumahan di benua tersebut dirancang untuk menahan panas selama musim dingin, bukan untuk menjaga rumah tetap sejuk di musim panas. Tidak seperti di Amerika Utara dan banyak bagian Asia. Bahkan, pendingin ruangan di rumah masih relatif jarang di sebagian besar Eropa sehingga jutaan orang terpapar selama periode panas ekstrem yang berkepanjangan.

Pemerintah di negara-negara Eropa juga telah memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan meningkat seiring dengan berlanjutnya gelombang panas, dan mendesak masyarakat untuk tetap terhidrasi, menghindari aktivitas di luar ruangan selama suhu panas ekstrem, serta memeriksa kondisi kesehatan keluarga lanjut usia dan orang-orang rentan lainnya.

Sumber: Russian Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: