WMO Ungkap 13 Juta Penduduk Afrika Terdampak Cuaca Ekstrem, 3.000 Orang Meninggal
BeritaNasional.com - Krisis iklim global tengah menghantam benua Afrika dengan daya rusak yang mengerikan. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) baru merilis laporan "Keadaan Iklim di Afrika 2025" yang mengungkap bahwa cuaca ekstrem sepanjang tahun 2025 telah berdampak pada sedikitnya 13 juta orang dan merenggut lebih dari 3.000 korban jiwa.
Dalam laporan yang diumumkan pada Kamis (18/6/2026) tersebut, WMO menegaskan amukan cuaca ekstrem tidak lagi sekadar isu lingkungan, melainkan melumpuhkan seluruh sektor ekonomi dan sosial di benua tersebut.
Dampaknya nyata, mulai banjir bandang, kenaikan permukaan air laut, hingga hilangnya gletser abadi di kawasan pegunungan ikonik.
Fakta mencengangkan dalam laporan itu menyebutkan bahwa kecepatan pemanasan suhu di Afrika kini sudah melampaui rata-rata global.
Salah satu bukti paling fatal terlihat di Gunung Kilimanjaro. Gletser di Afrika dilaporkan telah kehilangan lebih dari 90 persen luasnya sejak akhir abad ke-19.
Di Kilimanjaro, hamparan es yang pada tahun 1900 masih seluas 11,4 kilometer persegi, kini menyusut drastis hingga menyisakan kurang dari satu kilometer persegi saja.
Banjir Bandang dan Kenaikan Air Laut
Tak hanya di gunung, ancaman nyata juga mengintai wilayah pesisir. Sepanjang tahun 1999 hingga 2025, permukaan air laut di sepanjang pantai Afrika terus merangkak naik, bahkan melebihi rata-rata global dengan kecepatan 3,6 mm per tahun di beberapa titik.
Bencana hidrometeorologi seperti banjir mendominasi lebih dari separuh total kejadian ekstrem yang dilaporkan sepanjang tahun lalu. Beberapa di antaranya memicu tragedi kemanusiaan yang hebat, seperti banjir besar di Nigeria yang menewaskan lebih dari 200 orang, serta banjir bandang di Republik Demokratik Kongo pada April dan Mei tahun lalu yang menelan lebih dari 160 korban jiwa.
Mirisnya, di tengah kepungan bencana tersebut, Afrika justru menghadapi kendala besar di sektor infrastruktur keselamatan. Laporan WMO mencatat adanya kesenjangan kritis, di mana baru sekitar 40 persen negara di Afrika yang memiliki sistem peringatan dini (early warning system).
Kendati situasinya mengkhawatirkan, WMO melihat adanya titik terang dari sisi penanggulangan.
Saat ini, mulai terbangun kolaborasi yang solid antara layanan meteorologi, badan manajemen bencana, serta pemerintah daerah di Afrika untuk memperkuat kapasitas respons dan layanan iklim.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menegaskan potret buram di Afrika ini harus menjadi alarm keras bagi dunia untuk segera mengambil tindakan terkoordinasi.
"Tanda-tanda perubahan iklim terlihat jelas di seluruh Afrika, mulai dari peningkatan suhu dan naiknya permukaan laut hingga banjir dan kekeringan yang merusak. Laporan ini menunjukkan tidak hanya skala risikonya, tetapi juga semakin pentingnya peringatan dini, layanan iklim, dan tindakan terkoordinasi untuk melindungi kehidupan dan mata pencaharian," tegas Celeste Saulo dalam laporan tersebut.
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 19 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu





