PLN Ungkap Kronologi Blackout Sumatera: Dipicu Cuaca Ekstrem Jambi, Bukan Sabotase

Oleh: Bachtiarudin Alam
Senin, 25 Mei 2026 | 13:32 WIB
PLN mengungkap kronologi blackout atau pemadaman listrik Sumatera. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam)
PLN mengungkap kronologi blackout atau pemadaman listrik Sumatera. (BeritaNasional/Bachtiarudin Alam)

BeritaNasional.com - PLN mengungkap kronologi pemadaman listrik atau blackout yang terjadi di beberapa wilayah Sumatera. Semua ini berawal dari adanya kondisi cuaca yang ekstrem di wilayah Jambi sehingga infrastruktur kabel mengalami kerusakan pada Jumat (22/5/2025) pekan lalu.

Penjelasan ini disampaikan Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra saat menghadiri rilis hasil investigasi yang dilakukan bersama Bareskrim Polri dan Puslabfor di Mabes Polri, Jakarta, Senin (25/5/2025).

“Hari Jumat, tanggal 22 Mei tahun 2026 pukul tepatnya 18.44 WIB, terjadi gangguan pada transmisi 275 kV New Aur Duri ke arah Sumsel 5. Dan, ini merupakan inputan menuju jalur 500 kV yang ada di bagian timur,” kata Edwin saat jumpa pers.

Diketahui, arus listrik di Sumatera turut terbagi dalam dua jalur utama untuk wilayah selatan ke Palembang dan Lampung, serta utara ke Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Aceh. Dengan sisi timur jalur berkekuatan 500 kV dan jalur barat 275 kV.

Namun, akibat gangguan yang terjadi di jalur 500 kV, distribusi listrik keluar dari sistem. Dampaknya, arus listrik yang besar dari timur berpindah ke jalur selatan yang memiliki kekuatan distribusi 275 kV.

“Nah, perpindahan arus tadi tersebut, itu menyebabkan fenomena yang kami sebut power swing, atau biasanya kita kenal dengan osilasi. Jadi tegangan maupun frekuensi berosilasi sangat tinggi pada saat itu, karena berpindahnya ke arah 275 kV tadi,” tuturnya.

Gangguan ini diduga karena kondisi cuaca yang pada saat itu hujan dan angin kencang. Akibat kelebihan arus energi, jalur selatan 275 kV diputuskan untuk mengisolasi agar tidak terjadi power swing yang menyebabkan gangguan yang lebih luas. 

Tindakan ini setidaknya berhasil memperkecil dampak gangguan dari pendistribusian arus listrik. Pemadaman hanya terjadi di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Aceh, sedangkan Palembang dan Lampung tetap normal.

“Ada beberapa pembangkit yang kemudian trip, lalu ada defense scheme (tindakan proteksi) kami yang bekerja sehingga sistem di sisi selatan kemudian normal. Tidak ada pemadaman di daerah Lampung dan sebagian besar daerah Palembang, tidak ada padam,” tuturnya.

“Tetapi, apa yang terjadi di daerah utara adalah di sana kekurangan dari pembangkit, frekuensinya rendah. Karena frekuensi rendah, pembangkit-pembangkit ada yang tidak tahan, kemudian trip, lalu terjadi domino effect,” paparnya.

Upaya Perbaikan

Domino effect itu terjadi karena PLN telah memisahkan dua jalur penyalur listrik antara timur dan barat. 

Setelah itu, proses perbaikan dilakukan dengan lebih dulu melihat data pada GITET (Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi) PLN terkait gangguan yang terjadi pada transmisi.

“Ketika sistem transmisi normal, maka berikutnya kami beralih ke sistem pembangkitan,” tuturnya.

Tercatat, pembangkit di wilayah Sumatera terbagi menjadi tiga bagian besar, pertama diesel dan gas yang menyala sendiri karena ada bahan bakar dengan cakupan daya tahan lima jam. Kedua, PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap) dengan cakupan daya 15 jam.

“Nah, yang lama adalah pembangkit-pembangkit PLTU. Pembangkit-pembangkit PLTU kami yang juga tersebar ada di Sumatera Utara, kemudian ada juga di Sumsel, Jambi, Sumatera Selatan, kemudian yang ada di Aceh, sifatnya pembangkit-pembangkit ini menyalanya 20 sampai 30 jam kemudian,” tuturnya.

Dengan begitu, proses penyaluran listrik berlangsung secara bertahap seiring masuknya pembangkit yang dimulai pukul 18.44 WIB pada Jumat (22/5/2026). 

Sampai Minggu (24/5/2026), mayoritas listrik telah kembali normal, sampai akhirnya pada hari ini dipastikan telah listrik di Sumatera kembali normal.

“Insyaallah pada hari ini, pembangkit- pembangkit besar sudah masuk, seperti di Pangkalan Susu dan beberapa tempat lainnya sudah masuk. Insyaallah pada hari ini dan sore ini tidak ada terjadi lagi pemadaman di sistem Sumatera,” tuturnya.

Bantah Sabotase

Sebelumnya, Bareskrim Polri turut membantah narasi munculnya sabotase dalam kejadian pemadaman listrik blackout di Sumatera. Sebab, dari penyelidikan, gangguan transmisi diduga disebabkan faktor cuaca buruk.

Wakabareskrim Polri Irjen Nunung Syaifuddin menjelaskan hasil penyelidikan ini didapat setelah pihaknya bersama Puslabfor dan PLN bergerak ke lokasi pada Jumat (22/5/2026).

"Sampai saat ini, kami  bisa pastikan tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout. Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca yang ekstrem yang menyebabkan gangguan pada sistem transmisi kelistrikan," kata Nunung saat jumpa pers di Gedung Bareskrim Polri,, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Nunung menjelaskan, faktor cuaca buruk itu diduga membuat frekuensi dan tegangan listrik tidak stabil memicu gangguan secara berantai. Berdampak pada pemadaman listrik di wilayah Sumatera meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan.

Sementara itu, kepastian tidak ada sabotase juga diperkuat dari temuan adanya kabel transmisi yang putus. Sementara itu, fisik tower transmisi masih diperbaiki dan tidak ditemukan kerusakan signifikan pada struktur tower.

"Berdasarkan keterangan awal di lapangan, kejadian putusnya kabel transmisi diduga terjadi secara tiba-tiba akibat pengaruh faktor cuaca yang dan masih memerlukan pendalaman lebih lanjut secara teknis maupun ilmiah," ujar Nunung. 

"Dugaan itu diperkuat oleh keterangan saksi yang kita temukan. Masyarakat sekitar lokasi kejadian menerangkan bahwa sesaat sebelum kejadian terjadi ledakan, baru terjadi pemadaman listrik di area sekitar tower transmisi," sambungnya.

Selain itu, dari pemeriksaan Puslabfor dan PLN, ditemukan putusnya kabel bukan karena faktor manusia, melainkan gesekan, pengaruh angin, faktor panas akibat sambungan longgar. Hal tersebut menimbulkan rongga maupun faktor tarikan atau goyangan akibat cuaca ekstrem.

"Dia lebih bersifat atau berbentuk serabut, ya, seperti yang ada di depan. Jadi kalau itu sabotase, pasti potongan-potongannya lebih rapi," ungkap Nunung.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: