Duo DJ DNA Rilis Album Perdana OURORA; Berisi 18 Trek
BeritaNasional.com - Sukses mencuri perhatian lewat sederet single hits seperti Love Ya, Cowok Red Flag, dan Second Choice, duo DJ papan atas Indonesia DNA kini siap melangkah lebih jauh.
Grup yang digawangi oleh JayJax dan Mister Aloy ini resmi mengumumkan peluncuran album penuh perdana bertajuk OURORA;.
Album yang merangkum 18 trek ini menyuguhkan eksplorasi musikalitas yang sangat luas.
DNA memilih untuk tidak membatasi diri pada satu genre saja. Meski materi album masih didominasi oleh dentuman khas Indo Bounce yang telah membesarkan nama mereka di lantai dansa, OURORA; juga menjadi ruang bagi DNA untuk menuangkan sisi idealis mereka melalui genre techno, dirty dutch, drum n bass, hingga trap.
Mister Aloy mengungkapkan bahwa keinginan untuk merilis album ini sebenarnya sudah lama ada, namun momentum yang benar-benar terencana baru dimulai sejak akhir tahun lalu.
"Dari dulu memang pengen (rilis musik). Tapi baru ada kesempatan untuk buat rilisan yang 'disengaja' itu dari 2023 September. Akhirnya kita keluarkan per-Q (quarter) single-single yang akan ada di OURORA; dengan genre yang tidak kita mainkan saat di club. Sengaja kita lakukan ini, karena selain memberitahu dunia 'ini lho, warna gue', kita juga mau edukasi fanbase kita tentang arah musik yang akan DNA ambil dengan perilisan OURORA;," jelas Mister Aloy saat peluncuran album di Jakarta pada Minggu (5/7/2026).
Tak hanya memanjakan telinga, OURORA; juga dirancang sebagai sebuah pengalaman visual yang mendalam.
Hal ini dari ilustrasi album art karya Elsha Graciella yang menggambarkan panorama matahari terbit, dipadukan dengan kombinasi elemen dunia nyata yang sarat makna.
"Untuk album art, kita ingin menuangkan cita-cita DNA ke dalamnya. Mulai kelompok burung yang terbang menuju cakrawala. DNA ini juga yang aku maksud bukan Mister Aloy dan JayJax saja, tapi seluruh tim yang telah membantu kita dari nol. Album ini adalah jerih payah kerja keras kita semua,’’ ujar Aloy
Selain kawanan burung yang terbang menuju cakrawala, beberapa elemen simbolis lain turut disematkan untuk menggambarkan perjalanan karier DNA.
Di antaranya adalah metafora tiang listrik dengan kabel kusut yang melambangkan kerumitan hidup, layangan Bali sebagai simbol kejenakaan yang selalu menyertai langkah mereka, serta matahari sebagai simbol pencapaian tertinggi atau 'menjadi bintang'.
Kendati demikian, pantulan air yang tenang di bawahnya menjadi pengingat agar mereka tetap mawas diri.
Proyek berskala besar ini digarap secara kolektif dengan melibatkan banyak musisi berbakat. JayJax, yang bertindak sebagai DJ sekaligus produser DNA, turut dibantu oleh Gamaliel Abram Pradipta dan Alvagracia Immanuel dalam menyusun aransemen trek demi trek agar menghasilkan alur yang dinamis.
"Merupakan mimpi semua musisi untuk bisa membuat full length album. Sangat senang dengan produk akhir yang kita bawakan ke dunia, dan aku rasa komposisi lagu-lagu yang ada di dalamnya sehat rasionya antar lagu ‘komersil’ dengan idealisme kita berdua sebagai DJ," jelas JayJax.
Dengan total durasi putar mencapai 1 jam 48 menit, album ini dibuka lewat trek pembuka bertajuk Who tf are we.
Trek ini merupakan sebuah sketsa perkenalan yang menampilkan perbincangan jujur dan blak-blakan antara Mister Aloy dan JayJax mengenai harapan masa depan mereka.
Perjalanan berlanjut ke trek orisinil Quest of The Sea, sebuah lagu trap tradisional yang membawa pendengar kembali ke akar bermusik mereka saat merilis Bass Up pada 2018 silam. Secara filosofis, judul yang berarti "Pencarian di Lautan" ini menandai titik awal petualangan baru mereka.
Alur musik kemudian bertransisi secara mulus (seamless) masuk ke trek Two Heads, yang memadukan perubahan drop yang kontras dari trap ke techno. Pada trek ketiga, DNA berkolaborasi dengan PARKZ dalam lagu berjudul PAIN. PARKZ, yang selama ini dikenal sebagai MC andalan saat penampilan live DNA, menyumbangkan suaranya pada tiga lagu di album ini dengan penulisan lirik bernuansa emo dan punk yang dibalut aransemen techno.
Setelah memacu adrenalin pendengar dengan tempo cepat, DNA menurunkan tensi lewat lagu lOst Together. Pada lagu ini, Mister Aloy memberikan kejutan dengan pertama kalinya bertindak sebagai penulis lirik.
Ketukan kembali naik pada trek keenam lewat leading single populer mereka bersama QG, Cowok Red Flag, sebuah lagu hip-hop yang dikombinasikan dengan unsur instrumen dangdut pada bagian drop.
Memasuki pertengahan album, DNA menghadirkan kilas balik lewat lagu Love Ya yang menggandeng penyanyi sekaligus rapper asal Bandung, SYEQY.
Suasana kemudian bergeser ke arah future house lewat lagu Second Choice yang berkolaborasi dengan INDAHKUS, sebelum akhirnya masuk ke sketsa transisi voy pa' alla.
Lagu ke-10 di album ini menawarkan tempo dinamis dengan struktur build-up modern yang berujung pada drop bernuansa big room euro.
Setelah itu, PARKZ kembali hadir memberikan hook yang memikat dalam lagu Pop It. Menjelang akhir album, sebuah sketsa penutup berjudul Ogoh-ogoh disajikan sebelum pendengar menemukan salah satu kejutan (hidden gem) bertajuk Don't Talk To Me—yang menjadi penampilan vokal penuh perdana Mister Aloy di sepanjang kariernya dengan pengaruh musik klub era 2000-an dan dominasi permainan synth serta bass.
Setelah trek Arcapada, Mister Aloy kembali menyapa pendengar lewat sebuah monolog introspektif yang mendalam dalam Chaotic Silence. Dua lagu terakhir ditutup dengan energi tinggi; PARKZ meluncurkan kolaborasi ketiganya lewat trek drum n bass berjudul Feel It Comin', disusul oleh kolaborasi spektakuler bersama YB (Reza Oktavian) dalam lagu Anomali.
Lagu ini menjadi karya pertama YB yang sepenuhnya berbahasa Indonesia, menampilkan perpaduan elemen BKB, trap, serta sentuhan tradisional berupa hentakan gendang dan suling khas Jawa Timur yang sekaligus menjadi sekuel spiritual dari lagu Cowok Red Flag.
Melalui album perdana ini, DNA berharap bisa mengajak para penikmat musik untuk masuk dan menyelami dunia kreatif mereka secara lebih personal.
"Ya, ini kan album kita. This is the real us, gitu. Mawas diri kok kalau penonton dan fanbase selama ini tahu kita besar dan dinikmati dengan Breakbeat, Indobounce. Tapi perlahan-perlahan, aku mau ajak penonton untuk menikmati warna yang berbeda di sini," tandas Aloy.
Album OURORA; rilis resmi di berbagai platform digital pada 3 Juli 2026.
(Rep/Satria Ismoyojati)
GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu







