Mendikdasmen: MPLS Jadi Awal Membangun Sekolah yang Memuliakan Setiap Murid

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 16 Juli 2026 | 15:02 WIB
Mendikdasmen Buka MPLS Ramah 2026. (Foto/Kemendikdasmen)
Mendikdasmen Buka MPLS Ramah 2026. (Foto/Kemendikdasmen)

BeritaNasional.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) harus menjadi momentum untuk membangun budaya sekolah yang ramah, aman, dan menghargai setiap murid.

Menurut Abdul Mu'ti, hari pertama sekolah bukan sekadar masa mengenal lingkungan baru, tetapi juga menjadi awal proses pendidikan yang akan membentuk karakter dan mengantarkan anak menuju masa depan.

"Saya merasa sangat berbahagia sekali melihat keceriaan anak-anak yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap kali saya bertemu anak-anak SD terutama, anak TK, saya merasa memiliki energi baru. Saya merasa memiliki semangat yang lebih, karena saya melihat harapan bangsa ada pada mereka," ujarnya dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026).

Ia menuturkan bahwa setiap anak merupakan titipan Tuhan yang harus dibimbing agar tumbuh menjadi pribadi yang mampu melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya sekaligus menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, serta memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.

Semangat tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan MPLS RAMAH yang menempatkan sekolah sebagai ruang tumbuh bagi seluruh murid. Melalui pendekatan ini, peserta didik diharapkan datang ke sekolah dengan penuh semangat, memperoleh teman baru, serta menjadikan sekolah sebagai rumah kedua.

"Melalui MPLS RAMAH, Kemendikdasmen ingin suasana sekolah yang penuh keceriaan sehingga anak-anak datang ke sekolah dengan semangat, dengan penuh cita-cita. Mereka akan mendapatkan kawan baru, mendapatkan suasana yang baru, serta menjadikan sekolah sebagai rumah kedua, bahkan mungkin sebagian sekolah adalah rumah mereka yang utama. Inilah yang ingin kita bangun bersama-sama," tuturnya.

Abdul Mu'ti juga menekankan bahwa sekolah yang ramah tidak hanya diwujudkan melalui lingkungan belajar yang nyaman, tetapi juga melalui sikap seluruh warga sekolah dalam menerima dan mendampingi setiap murid dengan penuh penghormatan.

"Memuliakan berarti menerima semua murid dengan segala keadaan mereka, dan kita dampingi mereka karena sesungguhnya mereka yang berbeda-beda itu punya potensi yang besar untuk menjadi orang-orang yang besar," tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa semangat memuliakan setiap murid diperkuat melalui pendekatan Deep Learning yang dikembangkan Kemendikdasmen. Menurutnya, pembelajaran tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia yang tercerahkan, berkarakter, serta mampu menghadirkan kedamaian dan kemajuan di tengah masyarakat.

"Belajar yang tidak sekadar mengumpulkan pengetahuan, tapi belajar di mana kita berusaha untuk dapat menjadi manusia yang berilmu, manusia yang tercerahkan dengan pengetahuan, dan manusia yang dengan pengetahuannya menciptakan damai dan kemajuan di mana pun kita berada. Saya merasa bahwa cara kita mendidik tentu harus dengan semangat saling memuliakan. Dan itulah kuncinya," ujar Abdul Mu'ti.

Sementara itu, Ketua Yayasan Santo Fransiskus, Romo Vinsensius Darmnin Mbula, mengatakan bahwa sekolah menerima setiap anak sebagai pribadi yang berharga tanpa membedakan latar belakang maupun kondisinya.

"Kami menerima mereka apa adanya, sesuai dengan prinsip pendidikan untuk semua tanpa mengecualikan. Pendidikan itu adalah memuliakan martabat murid melalui pembelajaran mendalam (Deep Learning) dan koding kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence)," kata Romo Darmnin.

Ia menjelaskan, tema MPLS Sekolah Santo Fransiskus tahun ini, "RAMAH dan Bukalah Pintu Gerbang Kemenangan", sejalan dengan semangat MPLS RAMAH yang diusung Kemendikdasmen. Pada tahun ajaran 2026/2027, Yayasan Santo Fransiskus menyambut 88 peserta didik baru yang tersebar di jenjang TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.

Di akhir sambutannya, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa mendidik anak merupakan ikhtiar jangka panjang yang membutuhkan ketulusan, kesabaran, dan konsistensi seluruh ekosistem pendidikan.

"Mendidik itu seperti menanam pohon. Kita mulai dari menanam biji, kita siram setiap pagi. Menumbuhkannya perlu bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun, tetapi menghancurkannya tidak perlu berjam-jam," pungkas Abdul Mu'ti.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: