Penerimaan Negara Tembus Rp1.459,4 Triliun hingga Juni 2026, Naik 21,4 Persen

Oleh: Lydia Fransisca
Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:40 WIB
Menkeu Purbaya Yudi Sadewa bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (BeritaNasional/Setpres)
Menkeu Purbaya Yudi Sadewa bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (BeritaNasional/Setpres)

BeritaNasional.com - Pemerintah mengumumkan penerimaan negara mencapai Rp1.459,4 triliun hingga Juni 2026 atau tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp1.656 triliun sehingga pemerintah menyatakan APBN tetap kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kinerja APBN hingga semester I 2026 menunjukkan hasil yang positif.

Menurut dia, penerimaan negara yang meningkat akan mendukung kebijakan fiskal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

"Kinerja APBN hingga semester I 2026 tetap menunjukkan hasil yang kuat. Pendapatan mencapai Rp1.459,4 triliun, sementara belanja negara terealisasi Rp1.656,0 triliun," kata purbaya dalam keterangannya, dikutip Sabtu (25/7/2026). 

"APBN terus berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan pelaksanaan agenda pembangunan nasional," tambahnya.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, sebagian besar penerimaan negara berasal dari sektor perpajakan yang mencapai Rp1.187 triliun atau sekitar 81,33 persen dari total pendapatan negara.

Penerimaan perpajakan tersebut terdiri atas penerimaan pajak sebesar Rp1.035,7 triliun, naik 24,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, serta penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp145 triliun.

Selain itu, pemerintah mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp271 triliun atau tumbuh 21,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penerimaan hibah mencapai Rp10,2 triliun.

Purbaya berujar pertumbuhan penerimaan negara turut menjaga kondisi fiskal tetap sehat. 

Hingga pertengahan tahun, Indonesia mencatat defisit anggaran sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Ini menunjukkan fiskal Indonesia tetap kuat. Dengan kinerja tersebut, kami optimistis APBN akan terus menjadi instrumen yang efektif dalam menjaga stabilitas, mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: