Ketika Mimpi Dibangun dari Sisa Penghasilan

Oleh: Imantoko Kurniadi
Minggu, 26 Juli 2026 | 23:24 WIB
Ilustrasi: Tumbuh Bareng Kamu dengan Literasi dan inklusi keuangan. (Foto/CopilotAI)
Ilustrasi: Tumbuh Bareng Kamu dengan Literasi dan inklusi keuangan. (Foto/CopilotAI)

BeritaNasional.com - Pukul 05.18 pagi. Saat sebagian orang masih menikmati sisa waktu tidur, Sastro sudah berdiri di dapur kecil rumah kontrakannya.

Ia menyalakan kompor, menyeduh kopi hitam tanpa gula, lalu membuka sebuah buku catatan yang selalu menemaninya setiap awal hari.

Di halaman-halaman buku itu, tidak ada daftar keinginan. Yang tertulis adalah tanggal jatuh tempo, nominal tagihan, dan berbagai kewajiban yang harus diselesaikan.

Cicilan biaya pengobatan ayah, utang koperasi, tagihan listrik, biaya sekolah adik, hingga iuran kesehatan. Satu per satu harus dihitung agar tidak ada yang terlewat.

Begitulah pagi dimulai bagi Sastro. Sebelum bekerja, ia lebih dulu memastikan keluarganya masih bisa melewati hari.

Di balik rutinitas sederhana itu, tersimpan perjuangan yang tidak banyak terlihat. Ketahanan tumbuh dalam diam, sementara harapan dipelihara lewat keputusan-keputusan kecil yang terus diambil. Ketika ikhtiar terasa sudah sampai di batasnya, yang tersisa hanyalah doa yang dipanjatkan hampir setiap hari, dengan keyakinan bahwa selalu ada jalan bagi mereka yang terus berusaha.

Sastro adalah satu dari jutaan masyarakat Indonesia yang menjalani hidup sebagai generasi sandwich. Mereka berada di antara dua tanggung jawab besar: menopang orang tua yang mulai bergantung secara ekonomi, sekaligus berjuang membangun masa depan untuk dirinya sendiri.

Ketika Satu Penghasilan Menjadi Tumpuan Keluarga

Lima tahun lalu, kehidupan Sastro berubah.

Ayahnya mengalami stroke ringan. Tabungan keluarga yang selama ini menjadi pegangan perlahan habis untuk biaya pengobatan. Ibunya yang memiliki usaha kecil dari rumah tidak lagi mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga. Sementara sang adik masih harus menyelesaikan pendidikan.

Sejak saat itu, Sastro menjadi salah satu tulang punggung keluarga.

Pagi hingga sore ia bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta. Seusai jam kerja, ia mengambil pekerjaan tambahan dengan membantu pengelolaan data dan laporan keuangan sejumlah usaha kecil. Waktu istirahat yang dimiliki kebanyakan orang justru berubah menjadi kesempatan baginya untuk menambah penghasilan.

Namun, menurutnya, rasa lelah bukanlah tantangan terbesar.

Yang paling menguras tenaga justru perasaan bahwa sebagian besar penghasilannya selalu habis sebelum sempat ia nikmati.

"Sering kali saya merasa hidup hanya berpindah dari satu tagihan ke tagihan berikutnya," tutur Sastro.

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Tapi kalau saya berhenti, bukan hanya saya yang jatuh. Satu keluarga ikut kehilangan pijakan."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan beban yang dipikul banyak generasi produktif saat ini.

Mimpi yang Tidak Pernah Benar-Benar Padam

Di tengah berbagai kewajiban, Sastro tetap menyimpan mimpi yang sama seperti kebanyakan anak muda.

Ia ingin menikah, memiliki rumah sederhana, dan hidup lebih tenang.

Namun kenyataan membuat rencana itu harus bergeser.

Rumah yang dulu terasa dekat perlahan menjadi tujuan yang tampak semakin jauh. Meski begitu, ia memilih tidak menyerah.

Setiap menerima gaji, Sastro selalu berusaha menyisihkan uang, berapa pun jumlahnya. Kadang hanya Rp50 ribu. Ada kalanya tidak ada yang tersisa selain harapan agar bulan itu dapat dilalui tanpa kebutuhan mendadak.

Bagi orang lain, nominal tersebut mungkin tidak berarti banyak. Bagi Sastro, itu adalah pengingat bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.

Sedikit demi sedikit, tabungan itu terus bertambah.

Beberapa tahun kemudian, ia berhasil memiliki rumah subsidi.

Bangunannya sederhana. Dua kamar, halaman kecil, tanpa pagar yang menjulang tinggi. Namun rumah itu menjadi simbol kemenangan atas perjalanan panjang yang penuh pengorbanan.

Bukan karena rumah tersebut mewah, melainkan karena setiap sudutnya dibangun dari kesabaran, disiplin, dan harapan yang tidak pernah berhenti dipelihara.

Wajah Generasi Sandwich di Indonesia

Kisah Sastro hanyalah satu potret dari jutaan keluarga Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 41 juta hingga 71 juta penduduk usia produktif memikul tanggung jawab finansial ganda. Mereka bukan hanya memenuhi kebutuhan hidup sendiri, tetapi juga menopang orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Sekitar 46,3 persen Generasi Z bahkan telah masuk dalam kategori generasi sandwich.

Di sisi lain, 82,96 persen rumah tangga lansia masih bergantung pada penghasilan anak atau anggota keluarga yang bekerja. Sementara biaya hidup terus meningkat, termasuk biaya pendidikan tinggi yang rata-rata telah mencapai Rp19,01 juta per tahun ajaran.

Kondisi tersebut membuat banyak keluarga kesulitan menyisihkan dana untuk tabungan maupun investasi. Penghasilan yang diperoleh setiap bulan lebih dulu habis untuk memenuhi kebutuhan hari ini.

Karena itu, persoalan generasi sandwich bukan semata-mata soal besar kecilnya penghasilan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola keuangan agar tetap memiliki ruang untuk membangun masa depan.

Di sinilah pentingnya literasi dan inklusi keuangan. Kemampuan memahami cara mengatur uang, mengakses produk keuangan, dan mengambil keputusan finansial yang tepat menjadi bekal penting agar generasi produktif tidak terus berada dalam lingkaran persoalan yang sama.

Bertahan Saja Tidak Lagi Cukup

Financial Planner Ode Kustriani Atmaja menilai banyak keluarga kini menghadapi tekanan yang semakin kompleks.

"Di tengah kondisi ekonomi saat ini, banyak keluarga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga kebutuhan, ketidakpastian pekerjaan yang meningkat, sementara tanggung jawab terhadap anak dan orang tua tetap berjalan. Dalam situasi seperti ini, sekadar bertahan hidup tidak lagi cukup," ujar Ode.

Menurutnya, apabila seluruh penghasilan selalu habis untuk kebutuhan hari ini, seseorang akan kesulitan membangun perlindungan keuangan ketika menghadapi risiko.

"Jika seluruh penghasilan habis untuk memenuhi kebutuhan hari ini, kita hanya akan terus berada dalam siklus yang sama dan tidak memiliki perlindungan ketika terjadi risiko," katanya.

Ode menekankan bahwa keluar dari tekanan finansial membutuhkan perubahan kebiasaan, bukan sekadar menambah penghasilan.

Ada empat langkah yang menurutnya penting dilakukan.

Langkah pertama adalah berhenti menambah utang. Berhemat atau mencari tambahan penghasilan tidak akan memberikan dampak besar apabila seseorang masih terus menciptakan utang baru. Menutup kebocoran keuangan menjadi fondasi utama sebelum menyusun rencana berikutnya.

Langkah kedua ialah membangun sistem pengelolaan keuangan yang disiplin. Mencatat pemasukan, merinci pengeluaran, memisahkan kebutuhan dan keinginan, serta mengalokasikan dana darurat akan membantu keluarga menghindari utang ketika menghadapi keadaan tak terduga.

Langkah ketiga adalah mulai membangun aset secara bertahap setelah kondisi utang lebih terkendali, idealnya ketika total cicilan tidak melebihi 30 persen dari penghasilan.

Menurut Ode, aset sebaiknya dibangun dari hasil menyisihkan pendapatan, bukan dari utang. Ia menyarankan menyisihkan sekitar 10 persen penghasilan secara konsisten, misalnya melalui sistem autodebet ke rekening tabungan atau investasi.

Terakhir, masyarakat perlu terus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Memahami berbagai instrumen investasi akan membantu uang yang telah disisihkan tidak hanya tersimpan, tetapi juga berkembang sesuai tujuan keuangan jangka panjang.

Tumbuh Bersama Harapan

Perjalanan Sastro membuktikan bahwa keamanan finansial tidak selalu dimulai dari penghasilan besar.

Sering kali ia berawal dari kebiasaan sederhana: mencatat pengeluaran, menahan diri untuk tidak menambah utang, menyisihkan sedikit demi sedikit, lalu menjaga konsistensi meski hasilnya belum langsung terlihat.

Rumah yang kini ditempatinya bukan sekadar bangunan. Ia adalah pengingat bahwa setiap keputusan kecil yang dilakukan berulang kali dapat mengubah arah kehidupan.

Bagi jutaan generasi sandwich, perjalanan menuju masa depan memang tidak selalu mudah. Namun selama ada kemauan untuk belajar, memperkuat literasi dan inklusi keuangan, serta berani mengambil langkah kecil secara konsisten, harapan selalu memiliki tempat untuk bertumbuh.

Sebab pada akhirnya, membangun masa depan bukanlah tentang seberapa cepat seseorang sampai di tujuan. Melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah, tetap menjaga harapan, dan Tumbuh Bareng Kamu, meski hidup berkali-kali menguji ketahanan.

"Ingat, financial planning bukan membatasi hidup, tetapi membantu kita membuat keputusan sesuai prioritas. Jika masih ragu apakah itu keinginan atau kebutuhan, tanyakan pada diri sendiri sebelum membeli, 'Apakah keputusan ini mendukung tujuan keuangan saya atau justru menghambat?'" Papar Ode

"Kesalahan terbesar yang sering membuat seseorang gagal memiliki rumah adalah tidak pernah menjadikan rumah sebagai tujuan keuangannya. Jadi, rumah hanya sebatas 'ingin dibeli', tanpa menetapkan target harga, timeline pembelian, memilih skema pembelian (KPR atau tunai), menyiapkan uang muka (DP), menghitung cicilan, apalagi mulai menyisihkan uang setiap bulan. Akibatnya, memiliki rumah hanya menjadi angan-angan," tutupnya.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: