OJK Soroti Rendahnya Literasi Keuangan di Tengah Tren Cashless Generasi Muda

Oleh: Lydia Fransisca
Selasa, 19 Mei 2026 | 16:29 WIB
Gedung OJK Jakarta. (BeritaNasional/istimewa)
Gedung OJK Jakarta. (BeritaNasional/istimewa)

BeritaNasional.com - Tingginya adopsi layanan keuangan digital dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.

Kondisi tersebut disorot dalam seminar Literasi Keuangan bertajuk Cashless, Careless: Jadi Mahasiswa Cerdas Finansial di Era Digital di Tangerang, Selasa (19/5/2026).

Kegiatan tersebut membahas tingginya penggunaan layanan keuangan digital di kalangan mahasiswa, mulai dari e-wallet, pinjaman online, hingga paylater, yang dinilai perlu dibarengi edukasi finansial lebih kuat.

CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi Muhamad Ihsan mengatakan generasi muda saat ini aktif menggunakan teknologi dan berinvestasi, tetapi belum seluruhnya memahami risiko dan pengelolaan keuangan secara tepat.

“Banyak anak muda sudah aktif menggunakan teknologi dan berinvestasi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang cukup tentang risiko dan cara mengelolanya. Hal ini membuat mereka adaptif terhadap teknologi, tetapi juga rentan terhadap perilaku konsumtif, lemahnya kontrol keuangan, dan jebakan utang,” kata Ihsan, Selasa (19/5/2026).

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 66,46 persen, sedangkan inklusi telah mencapai 80,51 persen.

Pada kelompok usia 18-25 tahun, literasi berada di level 73,22 persen dan inklusi 89,96 persen.

Sekitar 60 persen generasi muda tercatat telah berinvestasi di aset digital, sedangkan hampir 68 persen aktif menggunakan e-wallet.

Namun, tingginya partisipasi tersebut disebut belum tentu diiringi pemahaman risiko yang memadai.

"Kondisi ini diperparah oleh budaya YOLO dan FOMO yang mendorong pengeluaran berlebih, bahkan melalui utang konsumtif. Sehingga tingkat utang generasi muda di sektor fintech menjadi relatif lebih tinggi," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Departemen Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Andi Muhammad Yusuf mengatakan, pesatnya digitalisasi telah mendorong terbentuknya masyarakat cashless.

"Orang memakai produk keuangan, tapi tidak paham apa yang dipakai. Ini mengandung kerawanan, termasuk meningkatnya pengaduan dan potensi kejahatan keuangan digital,” ujar Andi.

Ia menambahkan, rendahnya literasi keuangan menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus penipuan dan penyalahgunaan layanan keuangan. 

OJK mencatat nilai kerugian akibat kejahatan keuangan digital mencapai sekitar Rp9,1 triliun berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) sepanjang November 2024 hingga Januari 2026.

“Literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, tetapi harus berdampak pada kesejahteraan. Individu yang memahami cara mengelola keuangan cenderung lebih stabil secara finansial dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Andi.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: