Kasus Korupsi Minyak Pertamina, Rumah-Perusahaan Terkait Anak Reza Chalid Digeledah Hari Ini

BeritaNasional.com - Kejaksaan Agung (Kejagung) hari ini turut menggeledah tiga tempat terkait kasus dugaan korupsi tata kelola minyak dan produk kilang pada PT Pertamina, Subholding, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada 2018-2023.
Kabar itu disampaikan Kapuspenkum Kejagung RI Harli Siregar terkait penggeledahan yang dilakukan di kediaman saudagar minyak Mohammad Riza Chalid atau Riza Chalid di daerah Jakarta Selatan.
"Per hari ini, penyidik melakukan penggeledahan (di rumah Riza Chalid) dan ini sedang berlangsung di Jalan Panglima Polim 2," ujarnya kepada wartawan pada Kamis (27/2/2025).
Selain lokasi itu, penyidik menggeledah lokasi kedua, yakni rumah lain Riza Chalid di Jalan Jenggala II, Jakarta Selatan, dengan hasil sitaan 144 bundel berkas.
Lokasi ketiga yang menjadi sasaran penggeledahan adalah PT Orbit Terminal Merak berlokasi Cilegon, Banten. Perusahaan itu diduga sebagai tempat oplosan produk minyak jenis RON 88 Premium atau RON 90 Pertalite agar dapat menghasilkan RON 92 Pertamax.
Diketahui, perusahaan itu tercatat milik anak Riza Chalid, Muhammad Kerry Andrianto Riza (MKAR) dan Gading Ramadhan Joedo (GRJ) selaku Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak.
"Di Kota Cilegon ya di satu tempat, yaitu PT OTM (cek) yang diduga sebagai storage atau tempat depo yang menampung minyak yang diimpor dan itu sekarang sedang berlangsung juga," ujarnya.
Total saat ini, ada sembilan tersangka dengan bertambahnya dua pejabat Pertamina Patra Niaga. Yakni, Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga Maya Kusmaya dan Commodity Trader Edward Corne.
Tersangka sebelumnya adalah Riva Siahaan selaku Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Patra Niaga dan Yoki Firnandi selaku Dirut PT Pertamina International Shipping.
Kemudian, Sani Dinar Saifuddin selaku Direktur Optimasi Feedstock dan Produk PT Kilang Pertamina International serta Agus Purwono selaku Vice President Feedstock Manajemen PT Kilang Pertamina International.
Lalu, MKAN selaku Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa, DW selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim, serta DRJ selaku Komisaris PT Jenggala Maritim sekaligus Dirut PT Orbit Terminal Mera.
Diketahui, kasus ini bermula dari tersangka Riva Siahaan (RS) Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Patra Niaga yang mengimpor minyak RON 90 atau sejenis pertalite, tetapi diolah sedemikian rupa menjadi RON 92 atau pertamax.
Semua minyak itu dipesan dengan mengimpor minyak mentah melalui PT Kilang Pertamina Internasional dan produk kilang oleh PT Pertamina Patra Niaga dengan melibatkan DMUT/Broker.
Padahal, saat itu, Pertamina diwajibkan mencari pasokan minyak bumi dari kontraktor dalam negeri sebelum merencanakan impor sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 3 Permen ESDM Nomor 42 Tahun 2018.
Para tersangka telah dijerat dengan Pasal 2 Ayat 1 Juncto Pasal 3 Juncto Pasal 18 UU Tipikor Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Atas dugaan perbuatan melawan hukum yang telah mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 193,7 triliun.
8 bulan yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 9 jam yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu