Khutbah Jumat: Apakah yang Dilakukan Setelah Ramadan?

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 04 April 2025 | 09:15 WIB
Ilustrasi bulan ramadan. (Foto/freepik).
Ilustrasi bulan ramadan. (Foto/freepik).

BeritaNasional.com - Bulan suci Ramadan telah berlalu, meninggalkan jejak ibadah dan kebaikan yang telah kita jalani. Selama bulan penuh berkah tersebut, kita telah berusaha meningkatkan amal dan ketakwaan. Namun, apa yang harus kita lakukan dalam 11 bulan ke depan?

Mampukah kita mempertahankan kebiasaan baik yang telah kita bangun selama Ramadan? Idealnya, demikianlah yang seharusnya terjadi. Tujuan dari berpuasa di bulan Ramadan adalah membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Berikut khutbah Jumat setelah ramadan sebagaimana dikutip dari NU Lampung:

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. 

Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.   

Sebelum Ramadan datang, kita selalu menantinya dengan penuh kerinduan. Setelah ia pergi meninggalkan kita, saatnya kini kita bermuhasabah dan mengingat-ingat kembali apa yang telah kita lakukan pada bulan yang penuh keberkahan itu. Apabila kita telah beramal dengan baik selama Ramadan, marilah kita pertahankan dan tingkatkan setelah Ramadan.  

Jika kita termasuk orang-orang yang lalai dalam melakukan kewajiban atau teledor dalam menjauhi larangan selama Ramadan, marilah kita segerakan diri kita untuk bertaubat dengan taubatan nashuha. Segera kita perbaiki diri kita sebelum maut menjemput.      

Meskipun bulan yang penuh ampunan, rahmah dan pelipatgandaan pahala ini akan segera berlalu, akan tetapi waktu untuk melakukan kebaikan tidaklah pernah berlalu kecuali dengan kematian. Shiyam dan qiyam tetap dianjurkan sepanjang tahun.   

Puasa dan berbagai ibadah yang lain tetap diperintahkan di luar Ramadan. Islam memberikan kesempatan kepada kita untuk meneruskan dan melestarikan ibadah puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada kita untuk berpuasa 6 hari di bulan Syawal dalam sabdanya: 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)ـ 

Artinya: Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan berpuasa 6 hari di bulan syawal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun” (HR Muslim).     

Di samping itu juga ada puasa sunnah Senin-Kamis. Ada puasa sunnah tiga hari (al-ayyam al-bidh) pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan, dan ada beberapa puasa sunnah yang lain.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan agar kita melakukan shalat malam sepanjang tahun, tidak hanya pada bulan Ramadan.

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، وَرَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ)

Artinya:  Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam, kemudian ia shalat dan membangunkan istrinya, jika istrinya menolak ia percikkah air ke wajahnya, dan semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam, kemudian ia shalat dan membangunkan suaminya, jika suaminya menolak ia percikkan air ke wajahnya (HR Abu Dawud).      

Segerakanlah diri kita untuk terus berbuat baik dan melakukan berbagai ketaatan. Mumpung kita masih muda, kita manfaatkan masa muda kita untuk berbuat baik sebelum kita tua. Senyampang kita sehat, kita manfaatkan masa sehat kita untuk berbuat baik sebelum kita sakit.   

Mumpung punya kesempatan, kita manfaatkan masa sempat kita untuk berbuat baik sebelum datang kesibukan dan kesempitan. Selagi kita hidup, kita manfaatkan masa hidup kita untuk berbuat baik sebelum kita mati.    

Dunia adalah waktu untuk beramal dan akhirat adalah waktu untuk mempertanggungjawabkan amal. Penyesalan di akhirat tiada guna dan manfaat. Jangan sampai kita tergolong mereka yang mengatakan di akhirat:

 يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ الله (الزمر: ٥٦)ـ   

Artinya: Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban kepada Allah (QS Az-Zumar: 56). 

Atau termasuk mereka yang ketika melihat adzab, mengatakan:  

    لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (الزمر: ٥٨)ـ   

 Artinya: Seandainya aku dapat kembali ke dunia, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik (QS Az-Zumar: 58). 

Atau termasuk mereka yang ketika diadzab di neraka, mereka mengatakan:

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ (فاطر: ٣٧)ـ   

Artinya:  Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari neraka, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh yang berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan dahulu (QS Fathir: 37).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Hendaklah kita senantiasa menjaga dan terus mengerjakan apa yang Allah wajibkan kepada kita. Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman:   

   ومَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)ـ   

Maknanya: Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya (HR Al-Bukhari).  

Hadirin yang berbahagia. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menjaga diri kita dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh dari satu biji kurma?   

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan kepada kita dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim mengenai seorang perempuan pezina yang diampuni dosanya karena menolong seekor anjing yang sedang kehausan?      

Jangan pula sekali-kali meremehkan dosa dan maksiat lalu kita melakukannya dengan dalih ini hanya dosa kecil. Karena dosa kecil yang dilakukan terus menerus dapat membuka jalan menuju dosa besar. Dan dosa besar adalah perantara dan jalan menuju kekufuran.    

Seseorang yang melakukan dosa besar terus menerus dikhawatirkan nantinya mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzu billahi min dzalik.   

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan: 

  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ (رواه الطبراني)ـ     

 Artinya: Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil (HR Ath-Thabarani).   

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.  

Setelah Ramadan, marilah kita perkuat iman dengan terus istiqamah berbuat kebaikan. Iman akan menguat seiring semakin banyaknya kebaikan yang dilakukan. Dan iman akan melemah seiring dengan semakin banyaknya maksiat yang dikerjakan.    

Sedikit yang dilakukan secara istiqamah lebih baik daripada banyak yang tidak diistiqamahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)ـ      

Artinya: Sebaik-baik perbuatan menurut Allah adalah yang dirutinkan meskipun sedikit (HR al-Bukhari dan Muslim).  

Terakhir, jangan pernah bosan dan puas dengan ilmu agama yang telah dipelajari. Setelah Ramadan, kita lanjutkan bermajelis ilmu. 

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      لَا يَشْبَعُ مُؤْمِنٌ مِنْ خَيْرٍ يَسْمَعُهُ حَتَّى يَكُوْنَ مُنْتَهَاهُ الْجَنَّةَ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرمِذِيُّ)ـ      

 

Artinya: Seorang mukmin tidak semestinya merasa puas dengan kebaikan yang ia dengarkan hingga kehidupannya berujung masuk ke dalam surga (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi). 

Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

 sinpo

Editor: Harits Tryan Akhmad
Komentar: