Menhut Raja Juli Klaim Deforestasi Turun di Tengah Bencana Banjir Sumatera
BeritaNasional.com - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengklaim deforestasi di Indonesia mengalami penurunan, termasuk di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Meski di tiga provinsi tersebut mengalami bencana banjir dan longsor.
Adapun, deforestasi adalah hilangnya tutupan hutan secara permanen atau berkurangnya luas hutan akibat penebangan pohon, baik yang disengaja maupun tidak. Dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR, Antoni menjelaskan, data sampai September tahun 2025, deforestasi di Indonesia mengalami penurunan 49.700 hektare. Jika dibandingkan dengan tahun 2024 terjadi penurunan 23,01 persen.
"Penurunan deforestasi tersebut juga teridentifikasi pada tiga provinsi terdampak banjir. Di Aceh menurun sebesar 10,04%. Di Sumatera Utara menurun sampai 13,98% dan di Provinsi Sumatera Barat turun 14% jika sekali lagi dibandingkan dengan tahun 2024," ujar Antoni di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Namun, Antoni mengakui ada tiga faktor yang saling mengait menjadi penyebab terjadinya bencana banjir dan longsor Sumatera. Pertama faktor curah hujan tinggi akibat siklon tropis Senyar, kemudian faktor geomorfologi daerah aliran sungai (DAS). Terakhir adalah faktor kerusakan lingkungan di daerah tangkapan air.
"Serta yang ketiga tentu adalah kerusakan pada daerah tangkapan air atau DTA," ujarnya.
Lebih lanjut, Antoni memaparkan gambaran daerah aliran sungai (DAS) dan perubahan tutupan lahan di lokasi terdampak bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di Aceh dari kurang lebih 70 titik banjir, yang masuk dalam DAS ada sebanyak 31 titik dengan luas 3,05 juta hektare di 15 kabupaten/kota.
"Kami telah melakukan analisa terhadap tutupan lahan di hulu DAS tersebut dengan menggunakan citra satelit di mana pada kurun waktu 2019 hingga 2024 terjadi perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi non-hutan seluas 21.476 hektare terdiri dari perubahan tutupan hutan di kawasan hutan seluas 12.159 hektare atau 56,61% serta di luar kawasan hutan seluas 9.317 hektar atau 43,39%," ujar Antoni.
"Pada 31 DAS yang terjadi bencana di Provinsi Aceh, kami identifikasi terdapat 217.301 hektar atau 7,1% luasan lahan kritis dari total luasan DAS terdampak," paparnya.
Sementara di Sumatera Utara, dari lebih 92 titik, 13 titik teridentifikasi masuk dalam DAS dengan luas total 207.000 hektare yang terbagi dalam 11 kabupaten/kota.
"Dari analisa citra satelit dari kurun waktu 2019-2024 terjadi perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi non-hutan seluas 9.424 hektar terdiri dari kawasan hutan seluas 3.427 hektar atau 36,36% serta di luar kawasan hutan atau area penggunaan lainnya seluas 5.997 hektar atau 63,64%," jelas Antoni.
"Selain informasi tersebut dapat kami sampaikan bahwa di Provinsi Sumatera Utara terdapat lahan kritis seluas 207.000 hektar atau 14,7% dari total luasan 13 DAS terdampak," sambungnya.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu






