Novel Baswedan Desak Pemerintah Jadikan Banjir Sumatera Momentum Reformasi Pengelolaan Lingkungan

Oleh: Panji Septo R
Minggu, 07 Desember 2025 | 20:07 WIB
Kayu gelondongan menghantam rumah warga saat bencana banjir di Sumatera. (BeritaNasional/tangkapan layar)
Kayu gelondongan menghantam rumah warga saat bencana banjir di Sumatera. (BeritaNasional/tangkapan layar)

BeritaNasional.com -  Eks penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan meminta agar bencana banjir bandang di Pulau Sumatera menjadi titik balik kebijakan lingkungan nasional. 

Menurutnya, tragedi ini menyimpan pelajaran penting tentang tata kelola sumber daya alam yang selama ini kerap longgar.

Novel menunjuk penyebab struktural eksploitasi sumber daya alam yang berlangsung tanpa akuntabilitas serta praktik-praktik koruptif. 

“Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan kemudian memicu serangkaian bencana serta menyebabkan korban jiwa dan kerugian yang sangat besar," ujar Novel kepada Beritanasional.com, Minggu (7/12/2025).

Dari posisi tersebut, Novel menekankan perlunya reformasi menyeluruh. Langkah konkret mencakup pengetatan regulasi, evaluasi total mekanisme perizinan, serta penguatan fungsi pengawasan agar setiap kegiatan di area rawan ditegakkan aturan dengan tegas.

Dia juga berharap pemerintah hadir lebih kuat dalam melindungi hutan, sungai, gunung, serta wilayah rentan lain.

Novel mempertanyakan tidak hanya aspek teknis pengelolaan, tapi juga akuntabilitas pelaku usaha dan pejabat yang terlibat dalam pemberian izin. 

Ia mengingatkan bila ada kolusi antara korporasi dan aparat, kasus itu bisa beralih menjadi perkara korupsi yang membawa tuntutan pidana serta tanggung jawab atas kerugian negara.

 “Semoga pemerintah dan pihak terkait menjadikan bencana ini sebagai pembelajaran dan segera menindak semua pihak yang melakukan kerusakan lingkungan,” tuturnya.

Novel menutup seruannya dengan menegaskan prioritas kemanusiaan dalam respons bencana. Pembenahan kebijakan hanya bermakna apabila upaya pertolongan, rehabilitasi, serta pencegahan berkelanjutan dilakukan secara terpadu. 

“Yang paling utama adalah segera menolong para korban, membantu masyarakat terdampak, memulihkan seluruh kerusakan yang terjadi, dan memastikan langkah-langkah perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari," tandasnya.

 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: