Pimpinan MPR Minta Evaluasi Menyeluruh Sopir Pengantar SPPG
BeritaNasional.com - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menilai evaluasi terhadap sopir SPPG yang mengantar Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak disederhanakan hanya dengan solusi berupa kostum bagi pengemudi.
Hal tersebut disampaikan menyusul peristiwa seorang siswa SD Kalibaru 01 Cilincing, Jakarta Utara, yang ditabrak mobil pengantar SPPG. Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang sempat mengusulkan agar sopir MBG mengenakan kostum Power Rangers guna meningkatkan antusiasme.
“Jangan hanya tampilan luar dan apalagi hanya baju sopir. Justru sopir itu, seperti kepala BGN, beliau akan melakukan evaluasi terhadap sopir,” ujar Hidayat di Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Menurut Hidayat, aspek kendaraan juga harus menjadi perhatian. Ia mengingatkan agar mobil yang digunakan benar-benar layak dan tidak mengalami masalah teknis, seperti rem blong.
Selain itu, sopir yang bertugas mengantar makanan harus dipastikan merupakan pengemudi berpengalaman, bukan sopir pengganti.
“Itu evaluasi menyeluruh tetap ya. Tapi sekali lagi, jangan hanya disederhanakan dengan baju, apalagi Power Rangers. Mungkin Gatot Kaca lebih bagus,” ujar Hidayat.
Sementara itu, diberitakan bahwa pascainsiden mobil pengangkut Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menabrak sejumlah siswa dan guru di SD Kalibaru 01 Cilincing, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu, Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat SOP (standard operating procedure) pengiriman makanan.
BGN kini menerapkan aturan bahwa pengantaran makanan hanya dilakukan di luar pagar sekolah.
“Usahakan tidak masuk membawa makanan ke halaman. Cukup diantar di depan pagar. Kenapa? Karena meskipun tidak ada upacara, anak-anak itu kan sering lari-lari di halaman,” kata Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang melalui keterangan di Jakarta, Minggu (14/12/2025).
Ia menekankan bahwa pengemudi mobil pengantar MBG harus benar-benar andal dan profesional, bukan sopir cabutan atau memiliki profesi lain, apalagi yang masih baru belajar mengemudi.
“Harus punya SIM, tidak sekadar SIM A, karena SIM A sekarang sudah seperti SIM C, asal dapat. Kenapa tidak asal SIM A? Supaya dia menguasai penggunaan mobil matic ataupun manual. Dia harus berprofesi sebagai sopir,” ujarnya.
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu







