Penelitian Terbaru Pastikan Parasetamol Aman bagi Ibu Hamil, Tak Terbukti Picu Autisme
BeritaNasional.com - Penelitian medis berskala besar terbaru yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan The Lancet membawa kabar melegakan bagi para ibu hamil di seluruh dunia.
Para ahli menyatakan penggunaan parasetamol selama masa kehamilan tergolong aman dan tidak terbukti meningkatkan risiko autisme, ADHD, maupun gangguan perkembangan pada anak.
Temuan ini sekaligus membantah klaim kontroversial yang sempat dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 2025.
Saat itu, Trump menyebut parasetamol tidak baik dan mendesak wanita hamil untuk berjuang mati-matian menghindari obat tersebut. Pernyataan ini sempat memicu kebingungan dan kritik tajam dari berbagai organisasi medis di dunia.
Penelitian yang diterbitkan di The Lancet Obstetrics, Gynaecology & Women's Health ini mengkaji 43 studi paling komprehensif yang melibatkan ratusan ribu wanita.
Para peneliti menggunakan metode studi saudara kandung (sibling studies) untuk mengesampingkan faktor genetik dan lingkungan keluarga.
"Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas, parasetamol tetap merupakan pilihan yang aman selama kehamilan jika dikonsumsi sesuai petunjuk," tegas Profesor Asma Khalil, penulis utama studi sekaligus konsultan kebidanan di Universitas London, yang dilansir dari BBC News pada Minggu (18/1/2026)/
Khalil menambahkan, jika ada laporan yang mengaitkan parasetamol dengan autisme sebelumnya, hal tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh faktor lain, bukan efek langsung dari obat itu sendiri.
Para ahli medis memperingatkan bahwa membiarkan demam tinggi atau nyeri hebat tanpa pengobatan saat hamil justru jauh lebih berbahaya. Tanpa bantuan parasetamol untuk menurunkan suhu tubuh, ibu hamil berisiko mengalami:
- Keguguran
- Kelahiran prematur
- Masalah perkembangan pada bayi
"Ibu hamil tidak perlu stres mempertanyakan apakah obat sakit kepala yang paling umum digunakan ini berdampak buruk pada anak mereka," ujar Profesor Grainne McAlonnan dari King’s College London.
Meski begitu, perdebatan di Amerika Serikat belum sepenuhnya padam. Departemen Kesehatan AS menyatakan masih ada beberapa ahli yang menaruh perhatian khusus.
Pada Agustus 2025, sebuah tinjauan dari Harvard TH Chan School of Public Health sempat menyarankan kehati-hatian terhadap penggunaan parasetamol dalam dosis berat atau jangka panjang.
Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sendiri mengakui bahwa hingga saat ini "hubungan sebab-akibat" antara obat tersebut dengan kondisi neurologis belum terbukti secara ilmiah.
Di Inggris dan Eropa, pejabat kesehatan tetap menegaskan bahwa parasetamol adalah obat penghilang rasa sakit paling aman yang tersedia bagi wanita hamil.
Para ahli sepakat bahwa parasetamol tetap menjadi obat lini pertama untuk menangani demam dan nyeri selama kehamilan.
Namun, seperti semua obat lainnya, penggunaannya tetap disarankan mengikuti dosis yang dianjurkan dan berkonsultasi dengan tenaga medis jika diperlukan dalam jangka waktu lama.
Sumber: BBC News
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu







