Sejarah dan Makna 22 Januari: Mengenal Hari Pejalan Kaki Nasional serta Tragedi Tugu Tani

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 21 Januari 2026 | 21:05 WIB
Ilustrasi Hari Pejalan Kaki Nasional pada 22 Januari. (BeritaNasional/Oke Atmaja)
Ilustrasi Hari Pejalan Kaki Nasional pada 22 Januari. (BeritaNasional/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Setiap 22 Januari, Indonesia memperingati Hari Pejalan Kaki Nasional. Bukan sekadar tanggal seremonial, peringatan ini lahir dari sebuah tragedi kemanusiaan yang mengguncang ruang publik dan membuka mata banyak pihak tentang rapuhnya keselamatan pejalan kaki di negeri ini.

Di balik peringatannya, tersimpan kisah duka, perjuangan panjang, serta harapan akan kota yang lebih ramah dan berkeadilan bagi semua pengguna jalan.

Berikut ulasan lengkap mengenai sejarah, makna, dan cara memperingati Hari Pejalan Kaki Nasional.

Sejarah Hari Pejalan Kaki Nasional: Tragedi Tugu Tani yang Mengubah Segalanya

Hari Pejalan Kaki Nasional berakar dari peristiwa memilukan yang terjadi pada 22 Januari 2012 di kawasan Tugu Tani, Jalan M.I. Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat.

Saat itu, sebuah mobil Daihatsu Xenia yang melaju tak terkendali menerobos trotoar dan menabrak 12 pejalan kaki, sekaligus merusak halte bus. Insiden ini menewaskan sembilan orang, sementara beberapa korban lainnya mengalami luka berat.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu kecelakaan pejalan kaki paling fatal dalam sejarah Jakarta. Tragedi ini menyisakan duka mendalam, sekaligus menyoroti minimnya perlindungan dan penghormatan terhadap hak pejalan kaki di ruang publik.

Sebagai bentuk penghormatan kepada para korban sekaligus upaya membangun kesadaran kolektif, Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) kemudian mendeklarasikan 22 Januari sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional pada tahun yang sama.

Peran Koalisi Pejalan Kaki dalam Perjuangan Hak Pedestrian

Koalisi Pejalan Kaki bukan organisasi yang lahir secara tiba-tiba. Gerakan ini telah terbentuk sejak 2011 dan berada di bawah naungan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB).

Kopeka merupakan gerakan nasional yang fokus memperjuangkan:

- Hak pejalan kaki atas ruang aman

- Trotoar yang layak dan bebas hambatan

- Kebijakan transportasi yang berorientasi pada manusia

Anggotanya terdiri dari pakar kebijakan publik, ahli tata kota, aktivis keselamatan jalan, serta jutaan warga yang setiap hari berjalan kaki di berbagai kota di Indonesia.

Dalam perjalanannya, Kopeka juga menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas dan organisasi, baik nasional maupun internasional, seperti Bike to Work Indonesia, Road Safety Association Indonesia, hingga jaringan global Walk21.

Makna Hari Pejalan Kaki Nasional: Lebih dari Sekadar Berjalan Kaki

Hari Pejalan Kaki Nasional memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar aktivitas berjalan kaki. Peringatan ini membawa pesan penting, antara lain:

1. Mengingatkan bahwa pejalan kaki adalah pengguna jalan utama

Dalam sistem transportasi apa pun, pejalan kaki seharusnya menjadi prioritas, bukan justru yang paling terpinggirkan.

2. Menuntut keadilan ruang publik

Trotoar bukan tempat parkir, berdagang, atau jalur alternatif kendaraan. Ia adalah ruang aman bagi manusia.

3. Mengubah cara pandang pembangunan kota

Kota yang baik bukan hanya ramah kendaraan, tetapi juga nyaman, aman, dan manusiawi bagi pejalan kaki, lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.

4. Menghormati nyawa manusia

Setiap kecelakaan pejalan kaki bukan sekadar angka statistik, melainkan kehilangan nyawa dan masa depan.

Cara Memperingati Hari Pejalan Kaki Nasional

Peringatan Hari Pejalan Kaki Nasional tidak harus selalu dalam bentuk acara besar. Ada banyak cara sederhana namun bermakna yang bisa dilakukan masyarakat, antara lain:

- Menggunakan trotoar sesuai fungsinya dan tidak melanggar hak pejalan kaki

- Menghormati penyeberang jalan, terutama di zebra cross

- Berjalan kaki lebih sering untuk jarak dekat sebagai bentuk dukungan transportasi berkelanjutan

- Mengkampanyekan keselamatan pejalan kaki melalui media sosial

- Mendukung kebijakan kota ramah pedestrian di lingkungan masing-masing

Bagi pemerintah daerah, momentum ini juga menjadi pengingat untuk terus memperbaiki kualitas trotoar, penyeberangan, serta penegakan hukum terhadap pelanggaran ruang pejalan kaki.

(Rep/Nissa)sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: