Di Tengah Ketegangan Laut China Selatan, Negara ASEAN Terbuka Adopsi Kerja Sama Maritim

Oleh: Kiswondari
Minggu, 01 Februari 2026 | 15:48 WIB
Menlu negara-negara ASEAN dalam AMM Retreat di Cebu, Filipina. (BeritaNasional/Kemlu RI)
Menlu negara-negara ASEAN dalam AMM Retreat di Cebu, Filipina. (BeritaNasional/Kemlu RI)

BeritaNasional.com - Menteri luar negeri (Menlu) dari negara-negara ASEAN mengisyaratkan keterbukaannya untuk mengadopsi usulan Filipina terkait kesepakatan bersama untuk memfasilitasi kerja sama maritim serta pasukan penjaga pantai di Asia Tenggara.

Sebagai pemegang keketuaan ASEAN 2026, Filipina mengusulkan pengesahan Deklarasi ASEAN tentang Kerja Sama Maritim dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN yang dijadwalkan Mei 2026 mendatang.

"Kami menyambut usulan Filipina untuk mengadopsi Deklarasi ASEAN tentang Kerja Sama Maritim dalam KTT ke-48 ASEAN, yang akan mengidentifikasi inisiatif kerja sama maritim secara spesifik," tulis pernyataan pers yang disampaikan setelah pertemuan ASEAN Foreign Ministers’ Meeting (AMM) Retreat di Cebu, Filipina, Kamis (29/1/2026). 

Terkait usulan ini, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Filipina untuk urusan ASEAN Dax Imperial menyampaikan bahwa Manila mengharapkan tercapainya konsensus dalam kerja sama penjaga pantai dan pusat maritim ASEAN.

"Kami mengharapkan sebuah konsensus dalam rangka kerja sama antara pasukan penjaga pantai dan pendirian pusat maritim ASEAN," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Meski tak membeberkan lebih lanjut, Dax Imperial memastikan bahwa inisiatif-inisiatif yang akan masuk dalam deklarasi tersebut masih harus dirundingkan bersama oleh negara-negara anggota ASEAN.

Di samping mendorong kerja sama konkret dalam aspek kemaritiman, Filipina juga akan mengupayakan percepatan penyelesaian Code of Conduct (CoC) untuk Laut China Selatan antara ASEAN dan China.

Usulan Deklarasi ASEAN tentang Kerja Sama Maritim tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran Filipina dan negara-negara anggota ASEAN lainnya atas ketegangan yang terjadi di Laut China Selatan.

Terpisah, Menlu RI Sugiono menyampaikan dukungan penuh Indonesia terhadap Kepemimpinan Filipina di ASEAN tahun 2026, yang mengusung tema “Navigating Our Future, Together”. Ia menegaskan, tema tersebut sangat relevan dengan situasi terkini yang terus menguji sentralitas dan kesatuan ASEAN.

“Tema kepemimpinan tahun ini mengingatkan kita bahwa negara anggota ASEAN berada dalam satu perahu yang sama, sehingga kita harus kuat dan bersatu dalam menavigasikan masa depan bersama,” kata Sugiono yang turut hadir dalam AMM Retreat itu.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas sejumlah isu kawasan, antara lain, situasi di Myanmar dan perbatasan Thailand-Kamboja. Para Menlu ASEAN menyepakati bahwa penyelesaian kedua masalah tersebut memerlukan pendekatan yang konstruktif.

Pembahasan juga menyoroti percepatan penyelesaian CoC di Laut China Selatan, yang diharapkan dapat disepakati pada tahun ini. Menlu RI menekankan bahwa finalisasi CoC adalah langkah penting untuk masa depan kawasan dan untuk menciptakan tatanan maritim yang stabil serta berbasis aturan.

Di tengah dinamika geopolitik global yang kompleks, menurut Sugiono, ASEAN perlu membangun ketahanan yang mandiri melalui penguatan sektor-sektor strategis seperti ketahanan ekonomi, energi, pangan, dan teknologi. Ia pun menyerukan agar ASEAN memperkuat pondasi politiknya, memastikan Asia Tenggara tetap menjadi zona perdamaian dan bukan panggung untuk proxy conflict.

“Kita harus berkembang memainkan peran yang lebih substantif. Kemitraan kita harus secara strategis memperkuat sentralitas, kesatuan dan stabilitas ASEAN,” tandasnya.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: