Bukan Cuma Hujan, Ini Penyebab Kompleks Mengapa Jakarta Terus Terkepung Banjir

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 04 Februari 2026 | 16:01 WIB
Petugas mengatur lalu lintas jalan di tengah genangan banjir yang merendam di sekitar Cempaka Putih, Jakarta. (Beritanasional/Oke Atmaja)
Petugas mengatur lalu lintas jalan di tengah genangan banjir yang merendam di sekitar Cempaka Putih, Jakarta. (Beritanasional/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Banjir yang kerap melanda Jakarta dan sekitarnya ternyata bukan sekadar urusan curah hujan tinggi.

Para pakar menyebut fenomena ini sebagai hasil keroyokan dari berbagai faktor, mulai penurunan tanah hingga sistem drainase yang mulai kewalahan.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Budi Heru Santoso mengungkapkan permasalahan banjir Jakarta bersifat multifaktor dan sangat kompleks. Menurut riset terbaru, setidaknya ada tiga pemicu utama yang saling mengunci.

“Jika kita melihat data riset terkini, ada tiga pemicu utama yang saling berkaitan. Pertama, Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah (land subsidence) dengan laju antara 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Kedua, curah hujan ekstrem yang melampaui kapasitas drainase. Ketiga, infrastruktur drainase dan sungai yang tidak maksimal karena tersumbat sampah dan pendangkalan,” jelas Budi yang dikutip dari keterangan resminya pada Rabu (4/2/2026).

Sungai yang Tak Lagi Mampu Menampung Air

Kondisi hidrologi Jakarta saat ini berada di bawah tekanan berat. Tumpukan sampah dan sedimen dari wilayah hulu membuat sungai dan kanal di ibu kota mengalami penyempitan serius. Akibatnya, daya tampung air menurun drastis.

Budi menekankan, tanpa penanganan terpadu, debit air yang kecil sekalipun tetap berpotensi meluap ke permukiman warga.

Ia menawarkan solusi berbasis teknologi, seperti penggunaan radar (SAR) untuk memetakan penurunan tanah dan penerapan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi tinggi air di Bendungan Katulampa.

“Solusi ini memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Dibutuhkan komitmen politik lintas wilayah yang kuat, koordinasi antar-lembaga, dan partisipasi aktif masyarakat,” tambahnya.

Senada dengan Budi, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Eddy Hermawan menyoroti dampak nyata perubahan iklim. Salah satu indikasinya adalah curah hujan ekstrem yang semakin sering terjadi, seperti pada awal tahun 2020 yang mencapai angka 377 mm per hari.

Dulu, memprediksi cuaca ekstrem sangatlah sulit karena keterbatasan data. Namun kini, BRIN mulai beralih dari teknik konvensional ke teknologi masa depan seperti Machine Learning dan Big Data.

“Sebelumnya kita menggunakan teknik konvensional (ARIMA), namun kini BRIN mencoba menggunakan Machine Learning, Deep Learning, AI, dan Big Data. Dengan teknik Hybrid ARIMA-LSTM, kita bisa mendapatkan akurasi yang lebih baik dan jangkauan waktu prediksi yang lebih jauh,” ungkap Eddy.

Mengenai kondisi cuaca saat ini, Eddy memperkirakan Musim Hujan 2026 akan berakhir pada akhir Februari atau awal Maret mendatang. Hal ini seiring dengan mulai bergeraknya fenomena Monsun Asia dan IOD ke fase normal.

Ke depan, BRIN berkomitmen untuk terus menyempurnakan sistem peringatan dini yang lebih presisi dan bersifat lokal. Tujuannya, memberikan waktu evakuasi yang lebih panjang (saving time) bagi warga agar dampak kerugian dari hujan ekstrem bisa ditekan.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: