Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
BeritaNasional.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan kesetiaan penuh kepada pemimpin tertinggi baru negara tersebut, Mojtaba Khamenei, yang baru saja ditunjuk oleh Majelis Pakar Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui siaran televisi milik negara, Islamic Republic of Iran Broadcasting, pada Senin. Dalam pernyataannya sebagaimana dilansir dari Aljazeera, Senin (9/3/2026), Korps Garda Revolusi Islam menegaskan dukungan penuh terhadap keputusan Majelis Pakar yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran.
Garda Revolusi menyebut Mojtaba Khamenei sebagai sosok ulama yang memiliki kapasitas penuh dalam bidang hukum Islam serta memiliki pemahaman mendalam mengenai persoalan politik dan sosial. Ia juga digambarkan sebagai pemikir muda yang dinilai mampu melanjutkan kepemimpinan revolusi.
Dalam pernyataan itu, Garda Revolusi menegaskan kesiapannya untuk mematuhi setiap arahan dari pemimpin tertinggi yang baru serta berkorban demi menjaga nilai-nilai Revolusi Islam Iran 1979. Mereka juga menegaskan komitmen untuk melindungi warisan dua tokoh utama revolusi, yakni Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei.
Selain itu, Garda Revolusi juga menyatakan akan terus melawan Amerika Serikat dan Israel hingga Iran meraih kemenangan. Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa bangsa Iran akan terus melanjutkan perjuangan melawan apa yang mereka sebut sebagai kekuatan arogan, kediktatoran, monarki, dan Zionisme.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Garda Revolusi siap memainkan peran sebagai “lengan kuat” dalam mempertahankan sistem Republik Islam serta mendorong terwujudnya peradaban Islam baru di masa depan.
Para pemimpin kunci Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan angkatan bersenjata, dengan cepat menyatakan dukungan mereka kepada pemimpin baru tersebut.
Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang bertugas mengarahkan strategi keamanan negara sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran, menyerukan persatuan di sekitar pemimpin tertinggi yang baru.
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf juga menyambut keputusan tersebut dan menyatakan bahwa mengikuti pemimpin tertinggi yang baru merupakan “kewajiban agama dan nasional”.
Mojtaba Khamenei sendiri tidak pernah mencalonkan diri dalam pemilihan umum atau mengikuti pemungutan suara publik. Namun selama beberapa dekade ia dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam pemimpin tertinggi dan memiliki hubungan kuat dengan Garda Revolusi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Khamenei semakin sering disebut sebagai calon kuat pengganti ayahnya. Penunjukannya dapat menjadi tanda bahwa faksi garis keras di pemerintahan Iran masih memegang kendali, serta mengindikasikan bahwa pemerintah tidak memiliki keinginan untuk segera mencapai kesepakatan atau perundingan dalam waktu dekat ketika perang memasuki pekan kedua.
Jurnalis Al Jazeera, Ali Hashem, menggambarkan Khamenei sebagai “penjaga gerbang” ayahnya.
“Dia mengadopsi posisi ayahnya terhadap Amerika Serikat dan Israel. Jadi kita akan menghadapi pemimpin yang konfrontatif. Kita tidak mengharapkan sikap moderat,” ujarnya.
Namun ia menambahkan, jika perang berakhir dan Khamenei tetap memimpin negara, masih ada potensi besar bagi Iran untuk mencari jalur baru dalam kebijakan masa depannya.
Sementara itu, Rami Khouri, peneliti kebijakan publik di American University of Beirut, mengatakan bahwa penunjukan Khamenei menandakan “kelanjutan” dari arah politik sebelumnya. Menurutnya, masih harus dilihat apakah pemimpin baru tersebut akan mendorong negosiasi untuk mengakhiri perang.
Apa pun yang terjadi, menurut Khouri, penunjukan tersebut merupakan “tindakan perlawanan”. Iran seolah ingin menyampaikan kepada Amerika Serikat dan Israel bahwa sistem mereka tetap bertahan.
Heidari Alekasir, anggota Majelis Pakar yang bertugas memilih pemimpin tertinggi, mengatakan kandidat tersebut dipilih berdasarkan pesan dari mendiang Ali Khamenei bahwa pemimpin Iran seharusnya “dibenci oleh musuh” daripada dipuji oleh mereka.
“Bahkan ‘Setan Besar’ (Amerika Serikat) juga telah menyebut namanya,” kata ulama senior itu merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang menyebut Mojtaba Khamenei sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima” untuk memimpin Iran.
Militer Israel sebelumnya juga memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan ragu menargetkan siapa pun yang menjadi penerus kepemimpinan Iran.
Pada Minggu, Trump kembali menegaskan akan berusaha memengaruhi siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Ia mengatakan bahwa tanpa persetujuan Washington, siapa pun yang dipilih untuk posisi tersebut “tidak akan bertahan lama”.
Penunjukan putra Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dipastikan akan semakin memicu kemarahan Trump.
Sumber: Aljazeera
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu







