Rekaman CCTV Tunjukkan Andrie Yunus Dibuntuti sejak Keluar Kantor YLBHI

Oleh: Bachtiarudin Alam
Rabu, 18 Maret 2026 | 17:09 WIB
Gambar dari kamera CCTV yang memperlihatkan Andrie Yunus sudah dibuntuti sejak Keluar Kantor YLBHI
Gambar dari kamera CCTV yang memperlihatkan Andrie Yunus sudah dibuntuti sejak Keluar Kantor YLBHI

BeritaNasional.com - Polda Metro Jaya berhasil menyusun rangkaian rekaman CCTV menampilkan aktivitas dari para terduga aktor penyiraman air keras terhadap terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus.

Berdasarkan rekaman CCTV pada 12 Maret 2026, sebelum teror penyiraman air keras, ternyata Andrie dibuntuti sejak tiba di Kantor YLBHI untuk rekaman siniar (podcast) bertema Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia sejak pukul 19.45 WIB.

“Termonitor di sana korban keluar dari Kantor YLBHI. Dan, dari sejak kantor YLBHI termonitor berdasarkan CCTV yang kami ambil itu sudah ada yang mengikuti oleh terduga pelaku orang tak dikenal,” kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (18/3/2026).

Saat keluar, kedua eksekutor yang menaiki satu motor segera membuat kode ke dua pengintai lain di motor berbeda untuk mulai bergerak. 

Total empat terduga pelaku dengan dua motor mengikuti Andrie Yunus sampai ke SPBU untuk mengisi BBM.

“Ini adalah dua orang yang diduga melakukan eksekusi di TKP nanti. Akan ada kesesuaian antara pakaian yang digunakan dengan kendaraan yang digunakan,” jelasnya.

“Termonitor setelah dari SPBU, posisi sudah ada yang menunggu. Ini adalah bagian dari kelompok terduga pelaku adalah kendaraan kedua yang melakukan monitoring terhadap korban. Ini posisi mengarah ke arah TKP,” tambahnya.

Selanjutnya, dua eksekutor dengan motor lain melaju melawan arah untuk menyiram Andrie Yunus sekitar pukul 23.30 WIB di Jalan Salemba I, Senen, Jakarta Pusat.

Ternyata, dari rekaman CCTV, kedua terduga pelaku lain yang mengintai Andrie ternyata melaju di sampingnya. Sesaat air keras disiram oleh eksekutor, pengintai pun segera melaju lurus dengan kencang.

“Ini adalah pelaku eksekutornya yang kami bulati warna merah berputar arah kemudian berpapasan menunggu. Nah, ini yang hijau adalah korban itu pada saat dilempar dengan cairan. Ini yang kuning adalah motor kedua yang ditunggangi oleh terduga juga jaringan dari pelaku kelompoknya pelaku,” imbuhnya.

Selanjutnya, empat terduga pelaku melarikan diri dengan melawan arus dari Jalan Salemba menuju kawasan Senen. Kemudian, mereka bergerak melalui Jalan Kramat Raya hingga kawasan Gondangdia sebelum menuju wilayah Jakarta Selatan.

Sementara itu, dua pelaku lain kabur melalui di jalur berbeda menuju kawasan Matraman hingga Jatinegara, Jakarta Timur, tepatnya arah Jalan Otto Iskandardinata.

“Kemudian, dari sini, eksekutor berpisah dua motor tersebut, satu melawan arah,” terangnya.

Berdasarkan hasil analisis dari serangkaian rekaman CCTV, pemeriksaan keterangan 15 saksi, serta barang bukti, kedua eksekutor berinisial BHC dan MAK. Sementara itu, dua pengintai belum diketahui.

“Dari satu data Polri ini, satu inisial BHC dan dua Inisial MAK,” kata Iman.

Kedua wajah pelaku yang didapat ini, dipastikan Iman bukan hasil editing artificial intelligence (AI). Sehingga hasil dari tangkapan wajah kedua pelaku ini bisa dipertanggungjawabkan dihadapan hukum.

“Ini hasil gambar yang kami peroleh, ini sama sekali tidak kami lakukan perubahan atau pengolahan. Sehingga kami dapat dipertanggungjawabkan ini bukan hasil AI,” kata dia 

“Ini adalah murni hasil pengambilan dari CCTV dari jalur yang dilalui pelaku. Sehingga bukan hasil AI. Kita sama-sama bisa lihat ini adalah orang yang menyiramkan cairan,” tambah dia.

Meski begitu data dari Polisi akan dikolaborasikan dengan penyelidikan TNI. Karena terdapat perbedaan inisial antara terduga eksekutor yang diumumkan Polri maupun empat terduga prajurit yang saat ini telah ditahan Mabes TNI. 

Polda Metro Jaya dalam hal ini mengumumkan dua inisial yakni BHC dan MAK. Sementara, TNI yang menggelar konferensi pers di waktu yang bersamaan menyebut terduga pelakunya yakni personel Detasemen Markas BAIS TNI berinisial NDP, SL, BHW dan ES.

Kolaborasi ini dilakukan guna mengungkap kasus teror tersebut secara terang-benderang. Sebagaimana arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk kasus diungkap secara profesional dan transparan.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: