100 Ribu Warga Kuba Termasuk Anak-anak Harus Antre Operasi Imbas Blokade Minyak AS

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 30 Maret 2026 | 13:11 WIB
Lighthouse Castillo Del Morro, Havana, Kuba. (BeritaNsional/Visit Cuba)
Lighthouse Castillo Del Morro, Havana, Kuba. (BeritaNsional/Visit Cuba)

BeritaNasional.com - Lebih dari 100.000 warga Kuba, termasuk di antaranya 11.000 anak-ana, harus menunggu antrean operasi di rumah sakit, imbas blokade minyak oleh Amerika Serikat (AS) dalam rangka menekan pemerintahan Kuba. Semua sektor pun ikut terdampak di Kuba, karena pemadaman listrik terjadi setiap hari.

"Menurut sistem layanan kesehatan, lebih dari 100.000 orang mengantre untuk dioperasi dan lebih dari 11.000 di antaranya adalah anak-anak," kata Wakil Perdana Menteri (PM) Kuba Oscar Perez-Oliva Fraga usai bertemu Gubernur St. Petersburg Alexander Beglov untuk membahas dampak blokade energi terhadap kehidupan warga Kuba, Minggu (29/3/2026).

Wakil PM Kuba mengatakan, krisis energi telah berdampak ke semua sektor kehidupan masyarakat. Khususnya, pemadaman listrik yang terjadi setiap hari telah berdampak negatif terhadap sistem produksi, transportasi, dan penyimpanan makanan.

Tak hanya itu, kelangkaan bahan bakar telah membuat sistem penyediaan air tidak berfungsi secara normal.

Sebagai informasi, pada Januari lalu, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif agar Washington mengenakan tarif produk impor dari negara-negara yang menjual atau memasok minyak ke Kuba.

Trump juga mengumumkan status keadaan darurat, dengan alasan adanya ancaman terhadap keamanan nasional yang diduga berasal dari Havana.

Pemerintah Kuba pun menuduh AS berupaya menghambat perekonomian negara Karibia tersebut dan membuat kondisi kehidupan penduduknya tak tertahankan.

Pekan lalu, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengonfirmasi bahwa Havana sedang dalam perundingan dengan Washington untuk menyelesaikan perbedaan di antara keduanya.

Menurut Diaz-Canel, Kuba siap melanjutkan perundingan dengan AS berdasarkan prinsip kesetaraan dan saling menghormati sistem politik masing-masing.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: