Hari Ke-35 Konflik Timur Tengah: Jet Tempur AS Berjatuhan, Iran Tolak Mentah-mentah Gencatan Senjata

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 04 April 2026 | 07:40 WIB
Ilustrasi pesawat tempur (Foto/Pixabay)
Ilustrasi pesawat tempur (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Ketegangan di Timur Tengah tak kunjung mereda pada hari ke-35 konflik antara blok AS-Israel vs Iran. 

Memasuki Jumat (3/4/2026) waktu setempat, situasi di medan tempur semakin panas setelah Iran mengeklaim berhasil merontokkan sejumlah pesawat militer Amerika Serikat (AS) dan menolak tawaran gencatan senjata dari Washington.

Berikut adalah rangkuman perkembangan terkini dari berbagai lini krisis yang mengguncang kawasan yang dikutip dari Xinhua News pada Sabtu (4/4/2026):

Klaim Trump dan Rontoknya Jet Tempur AS

Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social miliknya melontarkan pernyataan provokatif. Ia mengeklaim Amerika Serikat dapat dengan mudah membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu singkat.

"Kita bisa membuka Selat Hormuz, mengambil minyaknya, dan menghasilkan kekayaan besar," tulisnya.

Namun, di lapangan, militer AS mengalami pukulan telak. Iran mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh tiga aset udara AS dalam satu hari, yaitu Pesawat A-10 "Warthog" jatuh di Teluk Persia, Jet Tempur F-35 rontok di wilayah udara Iran tengah, dan Helikopter Black Hawk terkena proyektil saat melakukan operasi penyelamatan (SAR).

Hingga kini, operasi pencarian awak jet tempur yang jatuh masih berlangsung. Satu pilot dikabarkan berhasil diselamatkan, namun nasib navigator jet tersebut masih misterius.

Iran Tolak Gencatan Senjata 48 Jam

Di tengah intensitas serangan, Amerika Serikat sempat menawarkan proposal gencatan senjata selama 48 jam melalui negara perantara. Namun, Teheran secara tegas menolak tawaran tersebut. Sumber internal menyatakan bahwa Iran tidak akan berhenti melakukan perlawanan selama "agresi" terus berlangsung.

Sementara itu, intelijen AS melaporkan bahwa meski telah digempur selama sebulan, kekuatan rudal Iran masih utuh sekitar 50 persen, dengan ribuan drone serang yang siap digunakan.

Dampak Ekonomi dan Kerusakan Infrastruktur

Konflik ini mulai menghantam sektor industri secara luas di kawasan:

Israel: PM Benjamin Netanyahu mengeklaim serangan udaranya telah menghancurkan 70 persen kapasitas produksi baja Iran untuk melumpuhkan pendanaan militer (IRGC).

Uni Emirat Arab: Fasilitas gas Habshan terbakar akibat puing rudal pencegat, menewaskan satu warga Mesir. Selain itu, kompleks aluminium raksasa di Abu Dhabi rusak berat dan diperkirakan butuh 12 bulan untuk pulih.

Kuwait: Pabrik desalinasi air dan kilang minyak Mina Al Ahmadi dilaporkan terkena serangan pesawat tak berawak.

Korban Sipil dan Krisis Kemanusiaan

Sisi kemanusiaan menjadi sorotan tajam setelah serangan rudal AS-Israel di Jembatan B1, Provinsi Alborz, menewaskan 13 warga sipil, termasuk perempuan. Serangan ini juga melukai 95 orang lainnya.

Lebih dari 100 pakar hukum internasional di AS kini mulai bersuara keras. Mereka mengirim surat terbuka yang menyatakan bahwa perang ini kemungkinan besar melanggar hukum internasional dan termasuk dalam kategori "kejahatan perang" karena tidak adanya bukti ancaman langsung dari Iran yang mendasari pembelaan diri.

Reaksi Negara Tetangga

Irak: Memperpanjang penutupan seluruh wilayah udaranya hingga 10 April mendatang demi keamanan.

Turki: Presiden Erdogan menelepon Vladimir Putin untuk menegaskan bahwa Turki tidak mendukung serangan terhadap Iran maupun tindakan balasan Iran terhadap negara tetangga, sambil terus mengupayakan perdamaian.

Lebanon: Ledakan di posisi PBB (UNIFIL) melukai tiga pasukan penjaga perdamaian. Kedutaan Besar AS mendesak warganya untuk segera meninggalkan Lebanon selagi penerbangan komersial masih tersedia.

Eskalasi ini diprediksi akan terus meningkat mengingat kedua belah pihak masih menunjukkan sikap keras dan belum ada tanda-tanda jalur diplomasi akan membuahkan hasil dalam waktu dekat.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: