Serangan Dahsyat Israel ke Lebanon Tewaskan Ratusan Orang, Gencatan Senjata Terancam Runtuh
BeritaNasional.com - Militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (waktu setempat), yang disebut sebagai salah satu operasi paling kuat dalam beberapa pekan terakhir. Serangan ini menewaskan ratusan orang dan memicu kepanikan di tengah euforia gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Menurut otoritas pertahanan sipil Lebanon dikutip dari NBC News, Kamis (9/4/2026), lebih dari 250 orang tewas dalam gelombang serangan terbaru tersebut. Angka ini menambah total korban jiwa menjadi lebih dari 1.500 orang sejak invasi Israel ke Lebanon yang telah berlangsung lebih dari lima minggu.
Serangan terjadi di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa bagian timur. Rekaman video dan foto yang beredar menunjukkan kepulan asap tebal membumbung tinggi, sementara warga sipil berusaha menyelamatkan diri dalam evakuasi besar-besaran.
Ketegangan meningkat setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai serangan tersebut melanggar kerangka negosiasi yang sebelumnya disepakati dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turut menyerukan agar gencatan senjata mencakup Lebanon. Ia menegaskan bahwa penghormatan terhadap gencatan senjata di seluruh wilayah konflik menjadi syarat utama terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Presiden Trump menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata karena faktor Hizbullah. Meski demikian, ia memastikan bahwa situasi di Lebanon akan segera ditangani.
Serangan udara Israel dilaporkan menghantam sekitar 100 target dalam waktu 10 menit, termasuk markas dan fasilitas militer Hizbullah. Juru bicara militer Israel menyebut lebih dari 40 anggota Hizbullah berhasil dilumpuhkan dalam operasi tersebut.
Pemerintah Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya melemahkan Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran.
Namun, langkah tersebut berpotensi mengguncang upaya diplomasi yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Bahkan, Iran dikabarkan mengancam akan menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz sebagai respons atas serangan tersebut.
Situasi di Lebanon semakin memburuk dengan lebih dari 1,2 juta warga dilaporkan mengungsi sejak konflik kembali memanas. Seorang pekerja kemanusiaan di Beirut menggambarkan kondisi di lapangan sebagai “kacau total”, dengan serangan yang disebut menyasar wilayah sipil tanpa peringatan.
Hizbullah sendiri menyatakan telah menghentikan serangan ke wilayah Israel utara setelah gencatan senjata berlaku. Kelompok itu juga mengklaim berada di ambang “kemenangan besar” dan meminta warga yang mengungsi untuk menunggu pengumuman resmi gencatan senjata.
Meski demikian, konflik yang terus berlanjut membuat warga sipil Lebanon kembali menjadi korban. “Lebanon sudah tidak sanggup lagi. Negara ini runtuh secara ekonomi, dan semuanya ikut runtuh,” ujar seorang warga yang mengungsi dari Beirut selatan.
Dengan meningkatnya eskalasi ini, masa depan gencatan senjata di kawasan Timur Tengah kini berada dalam ketidakpastian.
Sumber: NBC News
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu







