Cak Imin: Sistem War Tiket Haji Bisa Pupuskan Harapan Jemaah

Oleh: Ahda Bayhaqi
Sabtu, 11 April 2026 | 13:14 WIB
Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin (Foto/ BPMI Sekretariat Presiden)
Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin (Foto/ BPMI Sekretariat Presiden)

BeritaNasional.com - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menanggapi usulan Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf bahwa antrian haji diganti dengan sistem war tiket. Menurut politikus yang akrab disapa Cak Imin, ini sistem war tiket tidak efektif.

Apalagi antrian haji sudah berjalan lama dan cukup panjang. Cak Imin mengingatkan jangan sampai antrian itu putus dan memupuskan harapan orang-orang yang mengantri untuk menjalankan ibadah haji.

"Saya belum melihat itu efektif ya, karena sistem antrean itu benar-benar sudah berjalan dan sudah lama orang mengantre. Jangan sampai masa tunggu yang panjang itu kemudian putus, pupus harapan," katanya kepada wartawan, dikutip Sabtu (11/4/2026).

Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat ini mengaku kasihan kepada calon jemaah yang sudah mengantri, kemudian sistem berubah. Menurut Cak Imin, sistem war tiket ini wacana yang masih terlalu jauh diterapkan.

"Ya saya kira masih ya yang sudah terlanjur ngantre tinggal 5 tahun, kasihan. Yang sudah ngantre tinggal 2 tahun gimana, apalagi yang sudah ngantre tinggal 2 tahun nasibnya gimana? Nah itu itu masih wacana itu masih jauhlah, masih panjang. Bisa saja tapi one day setelah proses- itu sekadar wacana gitu," ujarnya.

Sementara, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang tidak setuju dengan usulan Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf untuk mengubah sistem pendaftaran haji menjadi 'war tiket'. Pertama, dari aspek legalitas, hal itu bertentangan dengan UU Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Haji dan Umrah.

"Di situ disebutkan ya mendaftar, nggak bisa berburu tiket. Sama halnya waktu Undang-Undang ini, Undang-Undang 8 2019, sama. Tetap aja mendaftar," jelas Marwan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Marwan mengungkit aspek historis mulainya daftar tunggu antrian haji pada 2008. Ketika itu ada antrian karena jumlah peminat ibadah haji dari masyarakat yang tinggi. Ketika itu, untuk ibadah haji juga terjadi rebutan karena minat yang tinggi. Harganya ketika itu juga tidak mahal.

Marwan khawatir, jika diberlakukan 'war tiket' maka ibadah haji hanya untuk orang kaya yang memiliki uang.

"Umpamanya kalau war tiket, terus yang akan berburu ini siapa? Perburu tiket ini orang-orang kaya kan? Berarti si orang kaya tidak harus dibatasi juga," ujarnya.

"Kalau diberi ruang bebas, maka orang-orang tidak akan berhaji. Maka akan ada kecemburuan juga," sambungnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: