Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran Tanpa Batas Waktu

Oleh: Harits Tryan
Rabu, 22 April 2026 | 06:13 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto/X Donald J Trump)
Presiden AS Donald Trump (Foto/X Donald J Trump)

BeritaNasional.com -  Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Dia menyatakan bahwa militer Amerika Serikat akan menunda serangan yang telah direncanakan guna memberikan waktu tambahan bagi Teheran untuk mengajukan proposal penyelesaian konflik.

Langkah tersebut diambil pada Selasa atas permintaan mediator Pakistan. Gencatan senjata sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4/2026).

“Oleh karena itu, saya telah menginstruksikan Militer kita untuk melanjutkan Blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang Gencatan Senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara,” kata Trump dalam unggahan di media sosial dilansir dari Al-jazeera, Rabu (22/4/2026)

Pernyataan tersebut tidak menyebutkan batas waktu yang jelas, sehingga perpanjangan gencatan senjata dinilai bersifat terbuka, setidaknya dari pihak Amerika Serikat.

Hingga kini, pihak Iran belum memberikan tanggapan resmi. Kantor berita semi-resmi Tasnim menyebutkan bahwa sikap Teheran akan diumumkan kemudian.

Keputusan ini menandai perubahan sikap terbaru dari Gedung Putih. Beberapa jam sebelumnya, Trump sempat menolak perpanjangan gencatan senjata dan memperingatkan Iran bahwa waktu hampir habis sebelum dilancarkannya serangan besar terhadap infrastruktur negara tersebut.

Perubahan sikap ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan, setelah pejabat Iran mengecam blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka, yang dinilai dapat mengganggu rencana pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan apresiasi atas keputusan tersebut dan menegaskan komitmen negaranya untuk mendorong penyelesaian damai.

“Saya sangat berharap kedua belah pihak akan terus mematuhi gencatan senjata dan mampu menyimpulkan 'Kesepakatan Perdamaian' yang komprehensif selama putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan di Islamabad untuk mengakhiri konflik secara permanen,” ujar Sharif dalam unggahan di X.

Meski demikian, keberlanjutan blokade laut menimbulkan ketidakpastian mengenai kehadiran Iran dalam perundingan tersebut. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut blokade tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata.

“Iran tahu bagaimana menetralisir pembatasan, bagaimana membela kepentingannya, dan bagaimana melawan intimidasi,” tulis Araghchi.

Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung adanya perpecahan di dalam pemerintahan Iran yang dinilai memperlambat proses diplomasi.

“Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu,” tulis Trump.

Konflik antara AS dan Iran meningkat sejak serangan yang dilancarkan bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei.

Kepemimpinan Iran kini dilanjutkan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, meskipun ia belum tampil di publik sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi.

Sebelumnya, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata awal selama dua minggu sejak 8 April, namun kesepakatan tersebut diwarnai perbedaan pandangan terkait Lebanon dan kendali atas Selat Hormuz.

Dalam upaya mengakhiri konflik, AS mendorong penghentian total program nuklir Iran, pembatasan produksi rudal, serta pengurangan dukungan terhadap sekutu regional seperti Hizbullah dan Hamas.

Namun Iran tetap bersikukuh mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium sebagai bagian dari program nuklir sipil, serta menolak menjadikan kemampuan militer dan aliansi regional sebagai bahan negosiasi.

Sementara itu, peneliti dari Stimson Center, Barbara Slavin, menilai keputusan Trump sebagai langkah politis.

“Perang ini tidak berjalan sesuai harapannya sejak awal, dan Iran telah menemukan pengaruh baru dalam kendalinya atas Selat Hormuz,” kata Slavin.

Ia juga menambahkan bahwa AS perlu mengubah pendekatannya dalam negosiasi.

"AS harus "melepaskan tuntutan maksimalisnya" dan menawarkan Iran "semacam isyarat bahwa AS serius dalam mencari solusi," tambahnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: