Kecurangan Peserta UTBK 2026, DPR Nilai Ada Masalah Mendasar dan Integritas

Oleh: Ahda Bayhaqi
Jumat, 24 April 2026 | 18:18 WIB
UTBK 2026 di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar. (BeritaNasional/Univ. Tanjungpura)
UTBK 2026 di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar. (BeritaNasional/Univ. Tanjungpura)

BeritaNasional.com - Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah menilai, kecurangan sejumlah peserta dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 menunjukkan masalah mendasar niat dan integritas peserta. Ledia menegaskan, keberhasilan yang diperoleh dengan cara tidak jujur tidak akan membawa manfaat.

"Kalau memang niatnya sudah tidak benar, pasti akan jadi tidak benar dan ilmunya juga tidak berkah," ujar Ledia dikutip dalam keterangan pers, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, perkembangan teknologi menuntut sistem pengawasan yang lebih ketat. Penyelenggara harus mampu mengantisipasi berbagai modus kecurangan sejak awal, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

 "Kita perlu mendorong supaya mereka mau melakukan pengawasan sejak awal dan juga harus diantisipasi karena dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, hanya sekadar difoto soal bisa dijawab oleh AI," ujar Ledia.

Politikus PKS ini mengingatkan, penggunaan AI untuk menjawab soal tidak akan menggantikan kemampuan peserta yang sesungguhnya.

"Tapi buat apa yang menjawab AI? Bukan AI yang mau kuliah, yang mau kuliah kan anaknya," tukasnya.

Selain pengawasan teknis, Ledia menekankan pentingnya pembangunan karakter sejak dini melalui peran keluarga dan sekolah. Ia menyebut nilai kejujuran harus ditanamkan sebagai bagian dari proses pendidikan.

"Itu jadi bagian yang sangat penting harus ditumbuhkan sejak awal, pembangunan karakter oleh orang tua, oleh guru, bahwa bukan bab gengsi, ini bab ilmu untuk keberkahan di masa yang akan datang," tegas Ledia.

Ia juga meminta kampus dan penyelenggara UTBK menyiapkan sistem keamanan yang lebih baik, termasuk meninjau kebijakan terkait barang bawaan peserta seperti telepon genggam dan perangkat teknologi lainnya.

"Memang kampus-kampus dan penyelenggara harus sudah menyiapkan pengamanan. Bagaimana tingkat pengamanannya? Apakah misalnya kita perlu memikirkan, boleh tidak bawa HP, boleh tidak bawa yang lain-lain yang berkaitan dengan teknologi?" ujarnya.

Menurut Ledia, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, persoalan utama tetap kembali pada niat dan integritas peserta dalam mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi secara jujur dan adil. sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: